Rabu, 17 Juni 2009

Filosofi Cap Cay (Juara 3 lomba menulis Menpora 2009)

Filosofi Cap Cay

“sebuah esai refleksi dalam mencetak pemimpin muda”

Abstrak

Siapa yang tak kenal Socrates? Aristoteles? Lao Tse? Mensius? Confusius? Semua yang disebutkan tadi adalah para filsuf yang ajarannya tetap abadi hingga masa kini. Mereka tak lagi hidup, namun ajarannya telah outlast-hidup lebih lama dari si pencetus sendiri. Sebenarnya, para filsuf tersebut juga orang biasa. Namun, mereka banyak bertanya tentang apa saja yang ada di dalam benak mereka untuk kemudian direnungi dan dicari jawabannya. Aristoteles pasti bertanya-tanya saat mengamati bintang di langit, baru kemudian dipikirkannya dan dicetuskanlah idenya tentang alam semesta. Tak dapat dipungkiri, berawal dari pertanyaan-pertanyaan para filsuf kita di era post-modern ini dapat mengetahui barang sedikit misteri alam. Sekarang, perihal seorang pemimpin tepatnya pemimpin pemuda, haruslah timbul pertanyaan: bagaimanakah filosofinya?

Masakan Chinese paling terkenal di Indonesia barangkali adalah apa yang disebut cap cay. Secara harafiah, orang Tionghoa mengartikannya dalam bahasa Indonesia sebagai campuran sayuran. Saat ini cap cay bukanlah makanan eksklusif karena di lapangan cap cay dapat dijumpai dengan mudah. Apa hubungannya dengan pemimpin muda? “Ah, kamu ini masih terlalu hijau”. Apa arti kata hijau dalam kalimat tersebut? Kata hijau di sini melambangkan bahwa orang yang diajak bicara adalah masih muda. Sayur-mayur juga identik dengan warna hijau, segar, dan sedap dipandang mata. Seorang pemimpin muda dalam Filosifi Cap Cay dianggap bagaikan sayuran yang siap dimasak menjadi hidangan lezat, bergizi, dan bermanfaat yakni cap cay itu sendiri. Mari masuk ke dalam dapur pemimpin untuk bertanya-tanya selalu bagaikan filsuf ternama tentang proses pembuatan cap cay pemimpin muda.

Tentang Bahan Sayuran: Apa atau Siapa?

Sebelum seseorang memasak cap cay, mendapatkan sayur-mayur yang bermutu adalah hal wajib. Sayuran yang dipakai haruslah yang masih segar, baik bentuknya, sedap dipandang, kuat warnanya, tidak berulat, dan tidak berpestisida. Bagaimana dengan proses pencetakan pemimpin muda. Paralel dengan pembuatan cap cay, pertama-tama haruslah cikal bakal pemimpin muda itu ditemukan lebih dahulu, orang muda yang hijau dan segar. Maka, sebelum memasak lebih lanjut, perlulah kita rehat sejenak untuk merenung. Jika ditanya definisi seorang pemimpin, kata tanya apa yang digunakan, apa atau siapa? Apa itu pemimpin atau siapa itu pemimpin?

Belum lama ini Penulis berkesempatan untuk mengunjungi Monumen Nasional (Monas). Dalam tugu kebanggaan bangsa Indonesia ini terekam jelas bagaimana para pemimpin termasuk pemimpin muda yang bertempur melawan penjajah untuk kemudian memperoleh kemerdekaan. Semuanya ini terekam dengan begitu apik dan menawan lewat diorama-diorama yang ada. Saat itu Bung Karno dan Bung Hatta pastilah masih muda, terkait fakta bahwa mereka pun pernah muda. Menariknya adalah bahwa mereka berada di garis terdepan bersama sejumlah pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka beberapa kali gagal berdiplomasi, hingga dijebloskan ke dalam penjara, dan diasingkan ke daerah terpencil. Akan tetapi, hal itu menunjukkan bahwa sebenarnya pemimpin-pemimpin muda ini sangat berpotensi. Bila tidak, mengapa pemerintahan kolonial Belanda yang tak lagi berumur muda itu sampai perlu memenjarakan atau mengasingkan mereka.

Setiap pemimpin memiliki karakteristik sendiri. Soekarno memiliki karakter tegas dan keras yang ditunjukkannya dalam membentuk organisasi tandingan PBB karena dianggapnya PBB adalah boneka dari negara imperialis. Pemimpin lain seperti George Washington yang membawa Amerika Serikat mencapai kemerdekaan tentunya memiliki karakteristik tersendiri pula. Bahkan Hitler dengan Nazi-nya pun demikian. Semua pemimpin tersebut adalah subjek dari predikat memimpin. Maka, sebenarnya lebih tepat kalau ditanyakan siapa itu pemimpin muda dibandingkan apa itu pemimpin muda.

Jadi, siapa itu pemimpin muda? Menurut hemat saya, setiap pemimpin itu unik. Yang dapat disebutkan hanyalah karakter-karakter yang commonly found-umumnya ditemukan dalam diri pemimpin. Dalam konteks pemimpin muda tentunya usia adalah patokan yang jelas. Pemimpin muda adalah mereka yang berjiwa koleris dan berusia relatif muda,-relatif karena taraf kemudaan setiap orang boleh berbeda-, yang sedang atau telah diproses untuk menggantikan pemimpin yang ada sebelumnya.

Tentang Dapur yang Mengepul: Dimana?

Dapur pasti ada di setiap rumah. Di tempat inilah diolah kebutuhan jasmani anggota keluarga yakni makanan. Setiap organisasi berskala mikro seperti OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) ataupun yang berskala makro seperti pemerintahan negara memerlukan kebutuhan yang sama, kebutuhan akan pemimpin. Dimana dapur pemimpin muda itu?

Dengan menilik kata muda dalam frase pemimpin muda, besar kemungkinan perhatian pembaca tertuju pada bangku sekolah. Ya, dengan program pendidikan yang dijalankan pemerintah, pemuda Indonesia seharusnya dapat dengan mudah ditemukan di sekolah ataupun institusi pendidikan semacam universitas. Sekolah dan universitas adalah tempat paling cocok untuk mematangkan para pemimpin muda Indonesia. Di dalamnya belum ada praktik-praktik yang ada sebagai contoh di pemerintahan. Sebagai contoh, dalam OSIS para pengurus adalah mereka yang memiliki hati untuk menjadi pengurus. Bila tidak memiliki hati, hanya perlu menolak posisi yang ditawarkan tanpa konsekuensi apapun. Beda halnya dengan yang ada di pemerintahan sebelum revolusi. Beberapa pemimpin tidak memiliki hati yang termotivasi dengan baik untuk memimpin negeri ini. Akibatnya, korupsi tak disangka telah merajalela dan menggerus sendi-sendi bangsa. Di sinilah pemimpin muda mendapat nilai plus. Mereka bagaikan selembar kain putih yang belum ternoda oleh korupsi. Peran pendidikan begitu penting untuk menghindarkan para pemimpin muda di organisasi tingkat sekolah ataupun universitas dari noda korupsi karena sekali kena, memakai deterjen anti-noda sekalipun akan terasa sulit untuk kembali putih.

Beberapa tahun lalu, terlihat masih ada organisasi pemuda di masyarakat yang disebut Karang Taruna. Tetapi, saat ini sangat sulit untuk menemukannya. Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) pun menjadi salah satu alternatif bagi pemimpin muda untuk berkreasi selain sekolah atau universitas. Partai politik (parpol) juga menyediakan tempat, namun dirasa masih kurang untuk saat ini terbukti dengan kejenuhan yang dirasakan masyarakat akan pemimpin parpol-parpol yang masih didominasi muka-muka lama1.

Jadi, kelihatannya sekolah dan universitas masih menjadi dapur teraman dan terbaik bagi pemimpin muda untuk dimasak.

Tentang Teori Resep: Mengapa?

Pertanyaan menarik yang dapat dilontarkan seorang filsuf kepemimpinan adalah mengapa pemimpin muda layak mendapat tempat dan perhatian. Seorang direktur yayasan terkemuka di Indonesia menuliskan bahwa youth­-orang-orang muda ini sangat enerjik. Di tengah era globalisasi ini, perubahan dapat sewaktu-waktu terjadi. Cuaca saat ini amat sulit diprediksi oleh orang awam, karena hujan terkadang masih turun meskipun berdasarkan perhitungan normal seharusnya kemarau sudah datang. Pemimpin muda dirasa cukup liat dalam menghadapi cepatnya laju perubahan yang terjadi. Dengan energi yang masih segar dan penuh, manuver-manuver yang cepat dan lihai dapat diperagakan oleh youth ini.

Globalisasi tak dapat lepas dari teknologi, secara khusus komputerisasi. Inilah area dimana pemimpin muda berada selangkah di depan. Orang-orang muda ini adalah generasi paling gres yang mendapat fasilitas komputer dan juga internet. Negara-negara maju dapat menjadi seperti sekarang ini salah satunya adalah dengan teknologi yang mutakhir. Jepang dengan Honda dan Toyota-nya, Amerika Serikat dengan NASA-nya, Jerman dengan mesin-mesinnya, dan banyak lagi. Melalui teknologi negara-negara tersebut dapat berkembang pesat. Pemimpin muda yang aware-tanggap akan peran teknologi sangat dibutuhkan untuk mengejar ketertinggalan kita.

Sekali lagi peran sekolah dan universitas penting dalam hal ini. Sebagai lembaga formal yang berkaitan dengan knowledge-pengetahuan siswa atau mahasiswa termasuk dalam bidang teknologi, sekolah dan universitas bertanggung jawab untuk menjadi wadah terbaik. Tak perlu muluk-muluk dulu dengan membayangkan semua sekolah di seantero negeri ini memiliki laboratorium komputer yang dilengkapi dengan fasilitas wi-fi nan canggih. Dengan fasilitas yang sederhana pun sebernarnya sekolah dan universitas dapat membangun pemimpin muda berteknologi. Asalkan setiap pemimpin muda dapat dididik dengan baik bahwa teknologi itu penting dan lebih lagi bahwa SDM-nya yakni mereka juga penting.

Teringat dalam pidato Bung Karno pernah menyampaikan bahwa Uni Soviet (sekarang Rusia) pernah membeli berbagai macam mesin canggih, tank-tank, dan pesawat tempur dalam jumlah yang banyak. Namun ternyata tidak ada SDM yang memadai untuk menggunakannya, maka mubazirlah itu semua. Demikian jugalah bagi pemimpin muda. SDM mereka perlu ditingkatkan oleh sekolah dan universitas yang dilengkapi dengan fasilitas modern. Jikalau tidak, pemerintah perlu mengingat sajak lama: timbalah ilmu samapi ke negeri orang. Beasiswa belajar di luar negeri yang disediakan oleh pemerintah bagi pemimpin muda berpotensi bisa jadi solusi paling mantab.

Selain hal terknologi, alasan lain mengapa pemimpin muda perlu digodok adalah untuk proses regenerasi. Setiap sel dalam tubuh kita beregenerasi. Sama halnya dalam kepemimpinan, John Maxwell2 menyatakan dalam bukunya bahwa pemimpin yang berhasil adalah dia yang dapat mengorbitkan pengganti yang lebih baik atau minimal sama. Ini artinya regenerasi sangat penting demi menjaga stabilitas dan kelangsungan hidup sebuah organisasi.

Tentang Teknik Sang Koki: Bagaimana?

Telah Penulis sebutkan dalam bab sebelumnya bahwa sang koki yang memasak cap cay adalah pemimpin saat ini. Mereka inilah yang bertanggung jawab menggodok sayuran pemuda untuk menjadi pemimpin yang berkualitas. Klub sepak bola Inggris Manchester United sepertinya bagus untuk dijadikan perumpamaan. Bagi penggila sepak bola, nama seperti Ryan Giggs, Paul Scholes, dan Gary Neville tentunya sudah tak asing lagi. Begitu juga dengan Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, dan Rio Ferdiand. Tiga nama pertama adalah pemain veteran yang sudah berkepala tiga, sedangkan tiga nama terakhir adalah junior mereka. Perpaduan pasukan tua dan muda ini ternyata sangat dahsyat, terbukti dengan tropi-tropi yang berhasil digenggam MU akhir-akhir ini. Pasukan muda dibimbing dan dimatangkan oleh pasukan senior untuk di kemudian hari kelak menggantikan mereka. Tak dapat dihindari, pasukan tua ini harus pensiun suatu saat nanti.

Proses untuk mencapai keberhasilan seperti itu dapat dideskripsikan dalam satu kata, yakni mentoring. Tim Elmore3 mendefinisikan mentoring sebagai proses hubungan antara dua pihak yang bertujuan membangun. Dengan menjadi seorang mentor yang baik bagi pemimpin muda, maka negara ini tidak akan kekurangan pemimpin di kemudian hari. Proses perpindahan kekuasaan antara George W. Bush kepada Barack Obama dapat dikategorikan sebagai mentoring singkat yang dapat menjadi role model bagi bangsa-bangsa termasuk Indonesia. Bush dan Obama berasal dari dua partai berlainan ideologi. Menariknya, setelah Obama memenangkan pemilu pada 2008 dan menjalani proses persiapan, Bush menjadi mentor yang baik. Dalam surat kabar diberitakan bahwa Bush menyambut Obama di Gedung Putih dan membawanya ke dalam ruang oval, ruang kerja presiden AS, untuk menyampaikan hal terkini yang terjadi di AS dan dunia. Apa yang dilakukan Bush ini sungguh krusial karena akan gawat jika Obama langsung bertugas tidak dengan memahami dahulu kondisi internal di pemerintahan.

Bagaimana di Indonesia? Pemilu 2004 yang lalu dapat menjadi tolak ukur level mentoring di pemerintahan Indonesia. Saat Megawati Soekarnoputri harus rela menyerahkan tampuk jabatan presiden-nya kepada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tidak terjadi perpindahan tongkat estafet yang “mesra” seperti di AS. Tak hanya di level presiden, pergantian menteri dari zaman Soekarno juga tidak berlangsung dengan proses mentoring yang maksimal. Dalam bukunya, Prof. Dr. Tjipta Lesmana4 menceritakan bagaimana presiden-presiden kita yang terdahulu mencopot dan mengangkat pejabat menteri dalam perangkat kabinetnya. Dengan kekuasaan yang dimiliki, para presiden ini sempat mengganti menteri yang dianggap gagal dengan pribadi yang berdomain dari departemen lain bukan dari departemen yang sama. Menteri yang baru perlu adaptasi. Adaptasi memerlukan waktu termasuk jika si menteri baru berasal dari departemen yang sama. Waktu yang dibutuhkan tentu lebih banyak lagi bila menteri tersebut masih buta dengan departemen barunya. Tidakkah lebih efektif bila diadakan mentoring lebih dahulu dengan harapan kinerja menteri baru nanti dapat lebih efisien? Perlu rasanya untuk dicermati lebih lagi.

Bangsa Indonesia rindu akan hal tersebut di atas. Betapa indahnya bila bangsa Indonesia menyaksikan presidennya mementori suksesornya untuk memimpin negeri ini. Demikian pula, bangsa Indonesia juga merindukan pemimpin yang berpengalaman mementori pemimpin-pemimpin muda.

Tentang Sang Waktu: Kapan?

Sekarang, inilah pertanyaan yang seharusnya dapat dijawab oleh setiap lapisan dan elemen masyarakat. Bagi pemimpin yang sekarang memimpin, pertanyaannya menjadi: kapan kita bertindak sebagai koki untuk memasak cap cay pemimpin muda? Ada banyak hutan gundul di Indonesia, kapan seharusnya kita menanamnya? Kemarin, sudah barang mustahil. Tahun depan, mungkin lusa banjir sudah datang. Mau tidak mau, harus hari ini harus saat ini juga! Demikian pula mengenai mencetak pemimpin muda. Sekaranglah saatnya pemerintah bergerak maju memperbaiki sistem pendidikan Indonesia sehingga menjadi capable-mampu untuk mencetak pemimpin muda harapan bangsa. Caranya, telah disebutkan di bab sebelumnya.

Bagi orang-orang muda Indonesia pertanyaannya adalah: sebagai sayuran hijau nan segar, kapankah kita berani dimasak menjadi pemimpin muda yang luar biasa? Tak banyak yang punya hati untuk menjadi pemimpin. Mengapa? Karena menjadi pemimpin tidaklah mudah. Dalam perjalanan menjadi pemimpin, seseorang sudah pasti menghadapi tekanan, kesulitan, dan tempaan. Seperti dalam memasak cap cay, sang sayuran boleh jadi merasa perih saat dibubuhi garam dan merica, ataupun kepanasan karena api kompor. Tetapi, dengan timing yang tepat, sayuran itu akan menjadi masakan bercita rasa tinggi. Perlu perjuangan dan pengorbanan dalam segala hal.

Menjadi koki pun juga harus hati-hati. Semua koki yang terlibat antara lain pemerintah, dosen, dan guru di tingkat universitas dan sekolah harus memperhatikan masalah waktu. Para pendidik seharusnya membuat para pemimpin muda lebih menghargai waktu. Jam-jam sekolah tidak dapat mereka atur, tetapi selain jam sekolah merekalah yang bertanggung jawab untuk menggunakannya sebaik mungkin. Sekolah dan universitas sebagai lembaga resmi semestinya menjadi wadah bagi para pemimpin ini untuk menggunakan waktunya secara efektif. Contohnya adalah dengan menggembangkan budaya membaca. Daripada menghabiskan waktu dengan hal-hal negatif, pemimpin muda dapat didorong untuk lebih banyak membaca. Orang-orang sukses dalam sejarah manusia kebanyakan suka membaca. Inilah yang perlu diperjuangkan bersama baik pemimpin saat ini dan pemimpin muda sebagai pelakunya.

Hal terkahir tentang timing yakni jangan terlalu cepat atau terlalu lama untuk mengangkat masakan dari penggorengan. Bila terlalu cepat, itu berarti bumbu bisa jadi belum meresap atau sayuran masih ada yang mentah. Cita rasa tentunya berkurang. Pemimpin muda yang terlalu terburu-buru diorbitkan dapat kehilangan momentumnya sebagai pemimpin. Demikian juga bila sang koki terlalu lama memasaknya. Sayuran menjadi layu dan bisa jadi kehilangan nutrisinya karena seperti kita tahu bahwa sayuran yang terlalu lama di masak akan kehilangan vitaminnya. Jika pemimpin saat ini terlalu lama menunda proses regenerasi, pemimpin muda yang sudah siap menggantikan dapat kehilangan waktu dan kesempatan. Hal ini tidaklah baik. Proses regenerasi membutuhkan momentum yang sangat precise-tepat.

*

Oleh karena itu, sebagai penutup dari esai ini penulis berkesimpulan bahwa wadah terbaik dalam mencetak pemimpin bangsa adalah di sekolah dan universitas yang telah diintegrasi menjadi lebih baik seperti yang tersebut di atas. Setiap hal ada waktunya. Pemimpin saat ini memiliki waktu untuk memimpin, pun demikian pemimpin muda yang enerjik haruslah memiliki waktu untuk memimpin. Selamat menjadi koki yang handal dan sayuran segar yang memiliki hati untuk di”masak”. Inilah filosofi cap cay, filosofi dalam mencetak pemimpin bangsa.

***

1Diunduh dari berita-berita di harian Kompas (kurun waktu Desember-Maret) oleh Penulis sendiri

2Maxwell, J.C. (1998). The 21 Irrefutable Laws of Leadership. Nashville, Tennessee: Thomas Nelson, Inc.

3Elmore, T. (2007). Bagaimana menginvestasikan hidup anda dalam kehidupan orang lain [Mentoring: How to invest your life in others]. Jakarta: Metanoia

4Lesmana, T. (2009). Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan lobi politik para penguasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Oleh: Junaedy Aries Wijaya

Universitas Pelita Harapan

FIP-Teachers College

Tidak ada komentar: