Aku Jadi Bingung atau Aku Jadi Bahagia
Penjajahan yang bangsa Indonesia alami memang menyakitkan dan memilukan. Selama tiga setengah abad bangsa kita terkungkung dalam kejamnya para penjajah saat itu (Portugis, Belanda, Jepang). Namun ternyata, bila kita melihat lebih cermat zaman penjajahan juga mewariskan beberapa peninggalan yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup dan berbangsa Indonesia. Sistem pemerintahan, museum, bangunan pemerintahan, dan lain sebagainya menjadi yang terdepan sebagai warisan penjajah.
Selain yang sudah tersebutkan di atas, penulis menemukan satu warisan lagi yang ternyata juga “ditinggalkan” oleh pemerintah Hindia Belanda. Warisan tersebut adalah jasa asuransi. Kata asuransi berasal dari bahasa Latin assecurare, yang berarti meyakinkan orang lain. Secara umum jasa asuransi adalah jasa yang akan menanggung sesuatu yang mungkin dan atau pasti terjadi seperti kematian (pasti), kebakaran (mungkin),dan lain-lain.
Disadari atau tidak jasa asuransi telah menjadi salah satu bidang usaha yang worldwide-berskala dunia. Negara-negara maju dan adidaya seperti Amerika Serikat memiliki perusahaan asuransi yang sangat kuat secara finansial. Masyarakat berbudaya barat sepertinya sudah one-step-ahead dari kita masyarakat Indonesia dalam hal memahami dan menggunakan jasa asuransi.
Dari kacamata orang awam, memandang asuransi bisa jadi terasa aneh. Seseorang mengasuransikan jiwanya untuk kemudian membayar sejumlah uang secara berkala. Uang tersebut tidak dapat diambil sewaktu-waktu seperti tabungan di bank, tetapi hanya bisa “cair” saat terjadi hal yang diasuransikan seperti kecelakaan atau kematian. Dengan kacamata tersebut, jasa asuransi seakan-akan hal yang tabu karena berhubungan erat dengan hal-hal yang tidak disukai ataupun musibah.
Dalam menyikapi pemikiran ini penulis tertarik untuk menggunakan ilustrasi tentang manusia zaman berburu dan megumpulkan makanan dengan manusia zaman pertanian yang kita pelajari saat belajar Sejarah di bangku sekolah. Mari sejenak kita berawang-awang kembali ke masa itu. Let’s imagine kalau kita adalah manusia zaman berburu dan mengumpulkan makanan. Setiap pagi, sesaat setelah fajar menyingsing kita mengambil senjata, apapun itu entah tombak, kapak, atau pedang, dan mulai berjalan ke hutan untuk mencoba menangkap rusa. Setelah dapat, kita potong hasil buruan tersebut dan kemudian dimasak untuk di makan. Kulkas belumlah ada for sure, jadilah esok hari kita berkeringat ria untuk berburu lagi demi anak istri di gua.
Tiba-tiba hal aneh dilakukan oleh tetangga di gua sebelah. Mereka menciptakan alat seperti cangkul dan mulai menggemburkan sebidang tanah di depan dua. Dikuburnya biji-biji yang kecil dan tak berarti di mata kita serta ditanamnya sebuah pohon kecil. Setiap pagi, alih-alih berburu demi mendapatkan makanan, mereka menyirami sepetak tanah yang masih juga terlihat sama seperti hari kemarin. Minggu demi minggu dan bulan demi bulan mereka melakukan hal itu. Kita merasa mereka aneh. Hei, what are you doing, man?
Cobaan memang bak pencuri di malam hari. Kita tidak tahu kapan datangnya. Tak dinyana hutan tempat rusa-rusa beranak pinang terbakar hebat entah karena apa. Alhasil, tidak ada rusa yang selamat. Kelaparanlah kita. Tetapi tetangga sebelah gua malah sedang asyik memanen hasil kebun mereka yang sudah tampak hijau dan pohon yang dulunya kecil dan kerdil tak berguna sekarang berbuah lebat. Kebakaran hutan yang hebat seakan sudah mereka duga akan terjadi. Hebat nian. Apakah mereka peramal? Jelas bukan.
Well, ilustrasi di atas mungkin dapat menggambarkan kontras mereka yang memakai jasa asuransi dan yang tidak. Premi yang dibayarkan setiap bulannya dapat dianalogikan seperti menyirami tanah secara berkala hari lepas hari. Ternyata hal ini membawa nikmat di bagian ending-nya. Ilustrasi kebakaran hutan dapat menjadi wakil bagi peristiwa-peristiwa yang umum diasuransikan. We never know when it comes, we just know that it has probability between 0 and 1. Ya, kita memang tidak tahu apakah hal itu terjadi, namun untuk segala sesuatunya tentu ada kemungkinannya untuk terjadi.
Sebagai seorang muda yang juga sedang mencari hal-hal baru, penulis pribadi meyadari bahwa asuransi adalah bentuk lain dari investasi. Dalam hal ini tentunya kita berbicara tentang uang. Oleh karena itu, pemilihan perusahaan jasa asuransi pun juga haruslah hati-hati. Makin tua makin jadi; mungkin ungkapan tersebut dapat kita jadikan salah satu patokan dalam memilih perusahaan jasa asuransi. Dengan segudang pengalaman di bidangnya dan reputasi atau track record-nya perusahaan jasa asuransi yang sudah berjam terbang cukup tinggi dapat dijadikan rujukan. Satu perusahaan jasa asuransi yang di-established saat zaman pemerintahan Hindia Belanda, memenuhi hal-hal tersebut di atas dan masih bertahan hingga kini adalah Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera.
Sekali lagi asuransi merupakan investasi yang unik. Saat hal yang tidak kita inginkan tiba, dengan jasa asuransi kita bisa mendapat keuntungan. Belum lama ini seorang teman seperjuangan penulis masuk rumah sakit dan harus diopname. Sebenarnya di kampus disediakan jasa asuransi dalam skala kecil. Kebetulan teman yang satu ini merasa begitu sehat dan yakin tidak akan pernah sakit parah, maka tidak dibayarnyalah premi per bulan itu. Akhirnya, saat sudah diopname dia buru-buru membayar lunas premi yang sudah tertunggak guna menghidupkan kembali jasa asuransinya. Bagaimana menurut Anda?
Investasi asuransi sebenarnya memiliki power atau kekuatan saat kita dilanda badai. Dengan asuransi, saat dilanda musibah apapun itu kita tidak perlu untuk merasa Aku Jadi Bingung, tetapi Aku Jadi Bahagia. Bila disingkat, keduanya sama-sama AJB namun memiliki ending yang sangat berbeda. Jadi, AJB yang manakah Anda? Buat penulis, jelas AJB yang kedua.
Oleh: Junaedy Aries Wijaya
UPH 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar