Rabu, 31 Desember 2008

Kusebut Neokulturismas

Bulan Desember selalu identik dengan perayaan Natal dan tahun baru. Damai Natal dan gemerlapnya tahun baru seakan menjadi semangat tersendiri bagi setiap kita. Nah, spirit inilah yang akan coba saya angkat untuk mengamati perkembangan dunia seluler di negeri kita tercinta Indonesia.
Hari-hari ini kita sering mendengar seruan ”Merry Christmas!” atau ”Selamat Natal”. Kata Christmas sendiri cukup menarik untuk ditelusuri. Kata ini dapat dipenggal menjadi kata Christ dan mas. Christ merujuk pada Kristus, Tuhan umat Kristiani, sedangkan mas berarti kelahiran. Itulah mengapa digunakan kata Christmas.
Dihubungkan dengan dunia seluler, saya melihat bahwa penggunaan handphone menjadi sebuah budaya atau kultur baru. Oleh sebab itu saya menyebutnya Neokulturismas. Seperti apa proses kelahiran budaya baru ini? Yuk, kita simak bersama.

Neo
Kata neo memiliki artian yang sama dengan kata new dalam bahasa Inggris, yakni baru dalam bahasa Indonesia. Tak dapat disangkal lagi bahwa seluler telah membawa era ”baru” bagi bangsa Indonesia. Makin familiarnya telepon dan handphone telah membawa Indonesia memasuki era ”baru” yakni era komunikasi.
Revolusi Industri di Perancis membawa dunia meninggalkan era agraris menuju era industri. Kemudian dilanjutkan dengan era komunikasi di mana jasa seluler memegang peranan penting.
Kompetitifnya daya saing penyedia layanan jaringan telepon membuat lancarnya proses ini. Pada awalnya handphone hanya dimiliki mereka yang berada di pulau tertentu dan kota-kota besar. Selain itu, harga operasional (isi ulang pulsa) juga cukup mehal. Namun, beberapa tahun terakhir kita melihat bahwa hal ini bukanlah lagi menjadi halangan. Beberapa daerah ”baru” sudah terbuka melalui jangkauan jaringan komunikasi yang dikembangkan penyedia jasa seluler. Seolah saudara kita telah melihat dunia yang ”baru”



Kultur
Beberapa kata dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa asing. Kultur adalah salah satunya di mana kata ini berasal dari bahasa Inggris culture, yang berarti budaya.
Tak perlu melakukan survei berongkos jutaan hingga miliaran rupiah untuk membenarkan statement ini. Silahkan melihat sekita. Sejauh mata memandang, berapa buah handphone yang dapat kita temukan, berapa banyak baliho ataupun papan reklame mengenai produk berbau handphone yang dapat kita temui. Wow, tentunya banyak sekali.
Dari observasi singkat itu saja kita dapat membuat kesimpulan bahwa budaya/ kultur baru telah lahir. Saya teringat guru saya ,mengatakan bahwa sesuatu yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan dan kebiasaan yang juga dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebudayaan. Agaknya telpon dan Short Message Service (SMS) menggunakan handphone telah sering kita lakukan dan akhirnya menjadi kebiasaan untuk kemudian menjadi kebudayaan.
Kalau tahun 2000-an handphone masih menjadi barang mewah (tersier), saat ini agaknya telah menjadi kebutuhkan primer. Setiap orang terkoneksi satu sama lain kebanyakan melalui handphone. Berbagai tawaran menarik yang disediakan penyedia jasa komunikasi seluler termasuk murahnya tarif telpon maupun SMS membuat Handphone menjadi barang yang mudah ditemukan.
Tak dapat dipungkiri lagi, penggunaan handphone telah menjadi kultur baru dalam era ini. Dan hal inilah salah satu dampak sosial bagi masyarakat.

Mas
Budaya baru ini telah melahirkan beberapa hal di tengah bangsa yang menarik untuk disimak. Penggunaan handphone telah menjadi gaya hidup baru. Berbagai jenis handphone dan jenis penyedia layanan jaringan turut membawa lahirnya gaya hidup yang baru ini.
Disadari atau tidak, kultur baru ini juga membawa berkah dalam terbentuknya lapangan kerja di Indonesia. Menjual pulsa eceran, membuka toko handphone atau pulsa, menjadi karyawan perusahaan penyedia layanan jaringan seluler, dan banyak lagi adalah contoh bagaimana budaya ini memberi kesempatan kerja yang cukup luas.
Dampaknya, perekonomian dapat menjadi semakin kuat. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang berbau dengan seluler agaknya memiliki masa depan yang cukup cerah. Kreativitas juga teradu, tiap-tiap perusahaan penyedia layanan jaringan seluler seolah berlomba-lomba dalam menarik perhatian konsumen untuk menggunakan produknya.
Dari secuil ulasan saya ini, dapat kita lihat kelahiran budaya baru ber-handphone dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

Neokulturismas atau kelahiran budaya baru dalam ber-hendphone ria sungguh menjadi kenyataan. Kompetitifnya harga pulsa telah membawa dampak bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Dampak ini bukan hanya yang baik saja, yang kurang baik juga ada seperti masyarakat Indonesia menjadi konsumtif. Dengan murahnya tarif isi ulang pulsa, masyarakat dapat menjadi konsumtif. Namun, menyikapi hal ini kembali lagi adalah kebijakan masing-masing pribadi.
Di penghujung 2008 ini, kita sebagai konsumen dapat menilai siapa jawara penyedia layanan seluler Indonesia. Bagi saya, pro XL adalah yang terbaik. Sejak pertama kali memiliki handphone, saya tetap setia dengan pro XL. Tetap maju bangsaku, tetap maju dunia komunikasi Indonesia! Selamat tahun baru 2009!


Oleh:
Junaedy Aries Wijaya
Desember 2008