Minggu, 19 Mei 2013

Belajarlah dari Es Krim dan Love Your Life with Luve Litee


Jangan takut pada perubahan hidup! Tidak ada yang tetap di dunia ini karena satu-satunya hal yang tetap adalah perubahan itu sendiri! Tangkap momentum perubahan tersebut! Belajarlah dari es krim!

Baik di televisi, radio, buku, majalah, ataupun blog, seringkali kita mendengar jargon-jargon motivasi di atas. Mengapa manusia tertarik dengan perubahan? Karena memang kita lekat dengan perubahan, yang menuju arah positif tentunya. Lantas, bagaimana kita menghayatinya? Sekali lagi, belajarlah dari es krim.

Es krim? Ya, jenis makanan yang satu ini memang terbilang unik dan kreatif. Berdasar ilmu alam, siklus hidupnya berada di antara dua zat: cair dan padat. Berdasarkan ilmu psikologi, menikmatinya bisa menimbulkan ketenangan. Berdasarkan ilmu orang awam, es krim itu enak saja! Titik, nggak neko-neko.
Pernahkah Anda membayangkan es krim yang Anda makan tidak mau lumer di mulut? Jilatan pertama sampai keseribu, tidak ada berkas apapun di lidah Anda. Sang es krim ogah berubah. Bisakah Anda mengatakan es krim itu nikmat jika demikian?

Mari belajar dari es krim. Perubahan yang dilakukannya dapat membuat orang lain bahagia dan memberi rasa yang “wow”. Dengan mengijinkan diri untuk lumer (baca: berubah), es krim membawa bahagia. Mampukah Anda berubah menjadi pribadi lebih baik sehingga membawa bahagia pula untuk dunia ini?

Jadi, kita setuju es krim memang unik, kreatif, dan dapat membawa kabahagiaan bagi mereka yang menikmatinya. Namun, bagaimana dengan saudara-saudara yang alergi susu hewani? Yang sedang ikut program diet? Atau program fitness

Di sinilah perubahan itu dibutuhkan dan Campina menjawabnya dengan menghadirkan Luve Litee yang merupakan frozen dessert rendah lemak dan 100% non-dairy pertama di Indonesia. Terbuat dari susu soya (Isolated Soya Protein/ISP), Luve Litee baik dikonsumsi oleh dieter, vegetarian, vegan, mereka yang tidak dapat mencerna susu hewani, dan anak-anak berkebutuhan khusus.

Memiliki pola hidup yang sehat adalah salah satu bentuk perubahan yang positif. Luve Litee adalah jawaban bagi urban life style yang tetap ingin hidup sehat tetapi juga tak ingin kehilangan sensasi nikmatnya es krim. Tiga varian rasa yang tersedia membuat momentum lumernya es krim di mulut lebih menakjubkan: Green Tea, Raspberry Rosella, dan Chocolate. Sudah dikenal luas manfaat Green Tea sebagai anti-aging, mengurangi stress, lelah dan letih. Rosella membawa manfaat sebagai detoksifikasi, menjaga stamina, mengurangi panas dalam, dan menyeimbangkan berat badan. Untuk cokelat, sudah jelas yang satu ini handal di bidang mood booster (meningkatkan mood) sekaligus anti-depresan alami.

Maka, jika ada es krim berkualitas dengan beragam manfaat, mengapa menyia-nyiakannya? Hidup hanya satu kali. Mari, cintai perubahan untuk menjadi pribadi lebih baik. Belajarlah dari es krim. Luv your life with Luve Litee

Sabtu, 05 Mei 2012

Sepeda Motor Injeksi Irit Terbaik Cuma Honda: Uji Empiris demi Kebenaran Sejati!

Add Logo Honda PGM-FI SEO Competition
"Sepeda Motor Injeksi Terbaik Cuma Honda" memang adalah sebuah kebenaran yang keabsahannya dapat diuji. Dalam dunia sains, sebuah pernyataan yang diklaim benar harus melalui proses pengujian terlebih dahulu. Proses pengujian paling sederhana adalah uji empiris, yang didasarkan pada hasil pengalaman. Artinya, sebuah pernyataan menjadi benar-benar benar saat sang penguji melihatnya secara nyata (baca: mengalaminya).

Demi memuat tulisan yang kebenarannya adalah sejati, perlu 14 minggu pengamatan akan pengalaman dengan Honda Supra X Helm-In PGM-FI milik penulis sendiri sebelum akhirnya tulisan ini diolah, dimatangkan, dan disajikan. Ya, sebagai salah satu frontier otomotif di tanah air tercinta, Honda tak kenal lelah dalam menelurkan produk-produk fantastis. Produk unggulan paling mutakhirnya adalah sepeda motor dengan mesin injeksi yang dibalut dalam judul PGM-FI. Apa itu PGM-FI? Apa keunggulannya? Secara empiris, benarkah klaim-klaim Honda akan PGM-FI ini? Mari pacu Honda-mu, kita lihat lebih jauh tentangnya.

Bung Karno berkata "JAS MERAH": JAngan Sekali-seklai MElupakan sejaRAH. Sejak tahun 2005, Astra Honda Motor sudah menjadi pelopor produksi ramah lingkungan. Kendaraan bermotor, seperti yang kita tahu, mengeluarkan gas buang yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Contohnya adalah karbon monoksida (CO). Sepeda motor generasi terdahulu menggunakan karburator dalam sistem pembakarannya. Komponen ini sangat penting. Bagaikan jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh, demikianlah pentingnya sebuah karburator. Pun demikian, pabrikan Honda terus berinovasi untuk menyempurnakan mesin motor Honda agar lebih ramah lingkungan. Untuk itulah ditawarkan sepeda motor injeksi PGM-FI (Programmed Fuel Injection).

Mesin sepeda motor PGM-FI tidak lagi menggunakan karburator, namun sistem injeksi untuk keperluan pembakarannya. Dengan sistem ini, ada paling sedikit 6 kelebihan yang didapat. Berikut adalah ulasan kelebihan yang didapat lengkap dengan uji empiris (pengalaman) penulis sendiri:

1. Lebih Ramah Lingkungan
Dengan sistem fuel injection, mesin PGM-FI mampu menekan emisi hingga 90%. Artinya, udara kita lebih terjaga kebersihannya.
2. Lebih Irit Bahan Bakar
Inilah kelebihan yang paling didambakan semua pencinta motor. Secara empiris, penulis sendiri memang mengalami betapa iritnya motor PGM-FI. Jarum penunjuk bahan bakar seakan enggan untuk turun. Maka, tidak perlu terlalu khawatir jika toh nantinya harga BBM naik. Solusi jitu ada di depan mata Anda.
3. Lebih Bertenaga
Tahukah Anda bahwa motor juara MotoGP juga menggunakan teknologi pembakaran serupa. Hm.. Tentunya, performa tenaga sepeda motor PGM-FI juga mumpuni. Penulis pun merasa puas dengan performa mesin. Baik itu akselerasi maupun kecepatan, wuuusss...
4. Lebih Mudah Menghidupkan Mesin
Susah dihidupkan karena mesin dingin? No Way! Lagi-lagi pengalaman membuktikan. saat itu penulis meninggalkan sepeda motor Honda kesayangan selama 5 hari karena harus keluar kota. Sempat kehujanan dan diselimuti udara yang cukup dingin (musim hujan), namun saat tombol stater ditekan, dalam sekejap mesin hidup. Lagi-lagi, aplaus untuk Honda PGM-FI!
5. Lebih Mudah Perawatan
Honda memberikan garansi mesin selama 5 tahun. Wow.. Hal ini luar biasa dan dapat membuat hati kita lebih tenang. Dengan banyak cabang-cabang tempat servis resmi Honda, perawatan sepeda motor tipe injeksi ini pun akan akan semakin mudah.
6. Aman dengan Premium
Memang benar. Semuanya aman saat mesin diberi "minum" premium. Performa-nya tetap wahid.

Dari uji empiris sederhana tersebut, dengan suara tegas dapat dinyatakan bahwa sepeda motor injeksi terbaik cuma Honda! Bayangkan betapa bangganya saat berkendara di atas sepeda motor dengan teknologi mesin terbaik saat ini dan ramah lingkungan pula. Perlu Anda catat, saya bangga! I love Honda.

Note: informasi lebih detail tentang Honda dan PGM-FI-nya dapat dilihat www.welovehonda.com

Selasa, 06 September 2011

ASEAN 2015: Komunitas tak Berbatas dengan Gaya Diplomasi Ala Blogger

Kata Pak Guru, “ASEAN itu…”

Siang itu, Pak Agus sedang menggebu-gebu mengajar anak didiknya di sebuah ruang kelas sederhana. Bilur-bilur keringat sebesar biji jagung yang mengalir deras dari dahinya tak menguras habis semangat Oemar Bakrie yang satu ini. Sebuah peta cukup besar tergantung di papan tulis. Di peta tersebut, ada negeri elok rupawan Indonesia, ditemani negara serumpun Malaysia. Ada pula negara kota, Singapura. Naik sedikit, ada Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, Filipina. Eits… tak lupa juga ada Brunei Darussalam.

Ternyata Pak Agus sedang mengenalkan sebuah persaudaraan antar bangsa-bangsa di Asia Tenggara yang dikemas apik dalam ASEAN (Association of Southeast Asian Nations). Mudahnya, kata Pak Agus, ASEAN itu bagaikan Rukun Tetangga (RT). Setiap negara adalah sebuah keluarga. Setiap keluarga tentunya memiliki kepala keluarga (KK), buat Indonesia Pak SBY-lah KK-nya. Nah, di setiap keluarga tentu ada anggota keluarganya, bisa ibu, anak, kakak, adik, kakek, nenek. Itulah peran kita sebagai warga negara. Kita semua adalah anggota keluarga Indonesia yang ber-KK Presiden Indonesia dan berada di wilayah RT ASEAN. Demikian jelas Pak Agus, seorang guru.

(Hanya) Berbatas Garis-garis Maya

Sejak dideklarasikan, ASEAN tumbuh menjadi daerah regional yang mulai dipandnag dunia internasional. Bagi anggotanya sendiri, kerjasama multinasional ini mendatangkan keuntungan yang begitu rupa. Sesuai dengan tujuan dibentuknya ASEAN, tiap negara anggota RT ASEAN bekerja sama untuk mempercepat pertumbuhan di bidang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan kerjasama di bidang lain.

Memasuki usia ke 30, para pemimpin ASEAN mengumandangkan Visi ASEAN 2020. Diharapkan pada tahun tersebut terciptalah sebuah komunitas ASEAN yang berwawasan luas, damai, stabil, makmur, dan terikat oleh persahabatan dalam perkembangan yang dinamis dan dalam komunitas yang saling peduli. Sebuah visi yang luar biasa.

Obor semangat untuk mewujudkan visi tersebut terus dibawa dan dijaga oleh para pemimpin ASEAN. Hingga akhirnya pada tahun 2003, para pemimpin ASEAN sepakat untuk segera mewujudkan ASEAN Community (Komunitas ASEAN) berbekal gambaran visi di atas. Dan puncaknya, pada ASEAN Summit 2007, para pemimpin ini menandatangani Cebu Declaration untuk mempercepat terwujudnya Komunitas ASEAN dari tahun 2020 seperti yang dicanangkan menjadi tahun 2015.

Dikenal dengan nama beken Komunitas 2015, terdapat tiga pilar penopang yang penting: Komunitas Politik-Keamanan, Komunitas Ekonomi, dan Komunitas Sosial-Budaya. Dari namanya saja, sepintas orang awam pun akan dengan mudah memahami. Kata “komunitas” memang dirasa kental dengan solidaritas dan kebersamaan. Bagi anggota keluarga negara Indonesia seperti kita ini, diharapkan jalinan kerjasama yang semakin mesra antar anggota RT ASEAN. Konsekuensi baiknya, bidang-bidang kerjasama yang disebutkan dalam tiga pilar di atas dapat dikembangkan lebih lagi.

Bagi penulis pribadi, Komunitas 2015 bagaikan sebuah masterpiece yang ditunggu-tunggu. Mengapa? Karena selama ini, penulis merasa belum adanya lem perekat yang kuat berupa komitmen untuk menjadikan kawasan regional ASEAN lebih solid lagi. Mari kita lihat faktanya. Indonesia adalah salah satu negara pencetus ASEAN bahkan menjadi ketua-nya. Namun, hal kecil seperti jalinan persaudaraan dan persahabatan yang riil antar warga negara saja belum terlalu baik terjalin. Jujur saja, berapa persen dari kita yang pernah mengunjungi Laos? Atau berapa yang mengacungkan tangan saat ditanyai tahu tidaknya tentang gejolak politik di Thailand beberapa tahun lalu? Atau adakah yang memiliki kenalan dari Myanmar, Filipina, Vietnam atau Kamboja? Kalau mau jujur, sebenarnya kita lebih banyak bersinggungan dengan negara tetangga terdekat macam Malaysia dan Singapura. Lalu, bagaimana dengan yang lain? Inilah salah satu tantangan terbesar dalam usaha mewujudkan Komunitas 2015.

Sejauh pengamatan hingga kini, negara-negara ASEAN memang masih terpisahkan oleh letak geografis yang nyata. Komunikasi antar warga negara anggota ASEAN dirasa minim. Pertanyaannya saat ini, apakah kita akan menyerah begitu saja dengan batas-batas geografis dalam upaya mewujudkan komunitas yang berkomunikasi dan bukan komunitas sebatas deklarasi? Padahal, komunikasi yang terjalin baik akan menumbuhkan persahabatan, yang kemudian akan memunculkan persaudaraan sehingga cita-cita luhur mewujudkan komunitas ASEAN berbasis tiga pilar tadi dapat terwujud. Tetapi, bagaimana?

Para pengguna dan bahkan ‘pecandu’ internet sebenarnya yang paling tahu jawabannya. Ya, sobat kita Internet bisa menjadi kunci jawaban yang membantu. Dunia selalu beranjak. Dari dunia agraris ke industri. Dari industri ke teknologi informasi dan komunikasi. Di era serba instan ini, komunikasi nasional, regional, bahkan global sekalipun dapat dilakukan hanya dengan menekan satu tombol kecil saja. Garis-garis pembatas yang dapat membuat sulitnya proses pembentukan Komunitas ASEAN yang solid akan semakin luntur saat kita memanfaatkan dunia internet. Untuk itulah ASEAN Blogger hadir dan pada akhirnya yang ada hanya batas garis-garis maya.

Berdiplomasi Ala Blogger

Jika Anda berkesempatan mengunjungi situs ASEAN Blogger, Anda akan menjumpai motonya yang berbunyi: Bridging ASEAN Community (Menjembatani Komunitas ASEAN). Inilah forum maya berkekuatan nyata. Inilah sebuah aksi jitu yang menunggu reaksi bermutu. Dari siapa? Tentu dari kita para blogger yang juga adalah warga negara.

Oleh karena itu, penulis ingin merumuskan peran yang bisa diambil ASEAN Blogger guna menunjang Komunitas ASEAN 2015. Nah, masih ingat ilustrasi ASEAN di awal tulisan ini? Ya, ASEAN itu ibarat sebuah RT. Negara kita itu bak keluarga yang masuk wilayah RT ASEAN dengan Pak SBY sebagai KK-nya. Kemudian, kita ini berperan sebagai anggota keluarga. Sebenarnya, ilustrasi ini juga dapat memberi kita gambaran tentang peran ASEAN Bloggers.

Pertama, kita mulai dari lingkup keluarga Indonesia dahulu. Para blogger dari Indonesia harus mendukung setiap langkah arif yang diambil kepala keluarganya dalam memimpin negeri kita saat berhubungan dengan negara tetangga anggota ASEAN. Ingat, pemimpin tanpa pendukung tidak ada artinya sama sekali.

Kedua, sebagai Pak RT-nya, Indonesia harus menunjukkan tingkah laku yang baik serta kepemimpinan yang matang. Peran kecil tapi nyata yang dapat dilakukan para blogger Indonesia adalah dengan menjadi warga negara yang baik. Mari kita tunjukkan nilai-nilai luhur bangsa yang ditanamkan dalam diri kita. Saat menuangkan komentar, uneg-uneg, dan sebagainya dalam tulisan di ASEAN Blogger, selayaknya kita menjadi suri tauladan yang baik. Menulis dengan sopan sehingga tidak menyakiti siapapun.

Ketiga, ASEAN Blogger dapat mengekstensifikasi forum ini sehingga dapat dikenal oleh warga negara tetangga di RT ASEAN. Sekali lagi, dunia internet membuat batas-batas yang ada menjadi maya. Hal inilah yang harus dimanfaatkan sungguh. Jikalau mungkin, dapat juga diadakan sarasehan blogger dari negara-negara ASEAN.

Keempat, tidak menutup kemungkinan ide-ide luar biasa muncul dari para blogger. Tidak hanya dari Indonesia, dari negara lain juga. Jika sudah begini, rasanya pas juga bila ASEAN Blogger dapat dijadikan sebuah referensi tajam bagi para pemimpin ASEAN untuk mendapatkan ide-ide kreatif-inovatif guna mengembangkan kawasan ini. Dengan demikian, jarak antara pemimpin dan aspirasi yang dipimpin dapat terpangkas habis. Syaratnya? Mutu tulisan tentunya harus ditingkatkan terus!

Kelima, dengan adanya persahabatan dan persaudaraan antar blogger di ASEAN, diharapkan terwujudnya konektivitas yang aktif guna menunjang keberhasilan visi Komunitas ASEAN 2015. Rasa kebersamaan dan persaudaraan adalah bumbu dasar terciptanya kestabilan di segala bidang baik politik, ekonomi, keamanan, sosial, dan budaya.

Intinya, seperti inilah gaya diplomasi ala blogger. Ya, di zaman ini, diplomasi bukan semata milik para menteri luar negeri. Diplomasi tidak harus dilakukan secara formal dengan pakaian lengkap, berdasi plus jas. Para blogger juga punya kesempatan berdiplomasi dengan warga negara ASEAN yang lain. Bahkan diplomasi ala bogger dapat dilakukan hanya dengan memakai kaos oblong. Gaya diplomasi ini dapat menjadi sebuah langkah awal yang baik guna mempercepat dan mendukung terwujudnya Komunitas ASEAN 2015. Seperti kata Pak SBY, ASEAN Blogger Community adalah gagasan inovatif. Jaya terus ASEAN, maju terus Indonesia-ku! Go ASEAN Blogger!

- Junaedy AW -

September 2011

Minggu, 24 April 2011

Big Blue dan Planet Biru: Getting Smarter!


Tahun 1969 naga-naganya akan selalu dikenang sebagai lompatan terbesar manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Apalagi kalau bukan prestasi Neil Armstrong sebagai yang pertama menginjakkan kaki di Bulan. Di balik sukses besar tersebut, tentunya teknologi berperan sebagai protagonis. IBM (International Business Machine) pun tercatat sebagai perusahaan teknologi yang ikut berpartisipasi dalam misi besar ini.

Big Blue, demikian sebutannya, merupakan perusahaan multinasional di bidang teknologi komputer. Perusahaan ini menjual hardware, software, infrastruktur komputer, sampai jasa konsultan. Semenjak didirikan pada 1911, IBM sudah melegenda di dunia persilatan komputer. Memasuki usianya yang ke-100, diusunglah program Smarter Computing untuk membuat Smarter Planet. Spirit ini terlihat jelas jika Anda mengunjungi halaman websitenya; tertulis “As the planet becomes smarter, our computer must, too”. Wait a second, apa maksudnya? Bagaimana mewujudkannya?

Menilik dunia saat ini, persahabatan manusia dengan komputer terasa semakin mesra hari demi hari. Komputerisasi membantu manusia di segala bidang, mulai dari kesehatan, pendidikan, finansial, industri, pemerintahan, sampai jejaring sosial. Artinya? Satu, bahwa manusia memerlukan gaya hidup yang smart, baik itu berarti otomatisasi ataupun akses yang cepat. Dengan kata lain, secara kolektif kita perlu Planet Biru (Bumi) yang smarter untuk mendukung tren kehidupan manusia. Kedua, komputerisasi yang lebih baik benar-benar dibutuhkan. Smarter Computing memang layak dikedepankan sebagai jawaban akan kebutuhan untuk poin pertama. Mendukung opini ini, Richard Watson, konsultan IBM, mengemukakan bahwa teknologi adalah salah satu dari tiga kunci masa depan.

Maka, ada dua hal yang perlu dibangun: teknologi komputer dan Sumber Daya Manusia (SDM). Pertama, teknologi komputer adalah yang nomor wahid untuk dibangun, baik itu perangkatnya ataupun infrastrukturnya. Sebuah rumah sakit akan getting smarter dalam melayani pasiennya apabila didukung infrastruktur komputer yang baik. Kedua, SDM juga wajib dibangun dengan mengedepankan pendidikan berbasis teknologi. Melalui pendidikan barulah smarter computing bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan smarter planet. Memang, Big Blue dan Planet Biru harus getting smarter bersama.

***

NB: sumber yang disadur, dicerna, dan disajikan kembali terambil dari:

Watson, R. (2011). The next 50 years: Perubahan-perubahan besar 50 tahun mendatang. Jakarta: UFUK Press.

http://www.ibm.com

http://en.wikipedia.org/wiki/IBM

Oleh: Junaedy Aries Wijaya

(Badan tulisan: 300 kata)

Perpustakaan: Wahana Preservasi Keindonesiaan Kita (Juara I Libanev 2011)

“Oh ayolah... Apakah aku satu-satunya murid yang pernah membaca buku Sejarah Hogwarts? Kita tidak bisa ber-disapparate atau ber-apparate di dalam sekolah!”, seloroh Hermione Granger[1]. Kira-kira seperti itulah Hermione, teman sekolah Harry Potter ketika sedang menjelaskan bahwa mereka tidak bisa berpindah tempat dalam sekejap (disapparate-apparate) di dalam kastil kuno Hogwarts. Dengan begitu apik J.K. Rowling menggambarkan betapa frustasinya Herminone dengan fakta bahwa teman-temannya tidak banyak membaca buku, bahkan membaca buku sejarah tentang sekolah sihir tersohor di dunia fiksi tersebut. Cuplikan cerita tersebut mungkin sekali dianggap lalu oleh pembaca, namun sebenarnya ada semacam fakta umum yang ada di kalangan anak muda Hogwarts: kurangnya minat membaca. Padahal, masih dari secuil cerita itu, bisa dilihat betapa pentingnya peran sebuah buku dalam mempreservasi sebuah keunikan, yang dalam hal ini adalah keunikan kastil Hogwarts.

Bila Anda tersenyum simpul setelah membaca paragraph di atas, berarti Anda juga melihat benang merah yang sama. Minat baca yang rendah ternyata tidak hanya dialami murid-murid Hogwarts, tetapi juga anak-anak di Indonesia. Bahkan, menurut Ketua Umum GPMB (Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca) H. Rachmat Natadjumena, minat baca anak-anak sekolah di Indonesia ada di urutan ke-29 dari 32 negara[2]. Keprihatinan akan temuan ini sudah bergulir sejak dulu. Akan tetapi, hingga sekarang, naga-naganya belum ada sebuah terobosan jitu yang mampu mendobrak kurangnya minat baca.

Jika benang merah tersebut diulur lebih jauh lagi, bisa jadi variable berikutnya ada pada peran perpustakaan. Jika toh masyarakat Indonesia memiliki minat baca yang tinggi, namun tidak didukung adanya fasilitas perpustakaan, apalah jadinya. Menurut UU No. 43 tahun 2007 pasal 1, perpustakaan adalah sebuah institusi yang mengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka[3]. Dilihat dari definisi yang diberikan oleh pemerintah, sudah jelas bahwa peran perpustakaan adalah sebagai tempat seseorang bisa menemukan karya tulis/cetak (baca: buku) untuk pelbagai kepentingan seperti penelitian, informasi, bahkan rekreasi. Lebih lagi disebutkan fungsi perpustakaan sebagai wahana pelestarian untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa[4]. Pertanyaannya sekarang, mengapa disebut sebagai wahana pelestarian atau preservasi? Ada apa gerangan dibalik rak-rak buku yang berderet?

Mengenai hal ini, silahkan menyimak ilustrasi berikut. Seorang anak kecil menemukan sebuah diary tua yang bertuliskan nama ibunya di gudang rumahnya. Penasaran, anak tersebut membaca sebuah tulisan tangan yang asing baginya. Tertulis di halaman tersebut bahwa tanggal DD tahun YYYY, si anak mengucapkan kata pertamanya “Mama!”. Tertulis juga di halaman tersebut betapa bahagianya ibu tersebut mendengar kata pertama dari putra satu-satunya ini. Dengan rapi ditulisnya harapan bagi anaknya kelak di kemudian hari. Si anak kecil ini meneteskan air mata, memeluk buku itu dengan erat, dan merasa begitu dekat dengan ibunya yang meninggal dua hari setelah menulis dalam diary tersebut. Apa yang ingin disampaikan melalui ilustrasi ini? Satu hal yakni bahwa sebuah buku dapat menyimpan segudang cerita dan informasi. Sebuah buku dapat mengawetkan momen-momen kaeros dalam sebuah kehidupan. Sebuah buku dapat mempreservasi warisan bagi orang-orang di kemudian hari.

Inilah jawaban dari pertanyaan di atas. Begitu kuatnya kekuatan sebuah buku untuk mepreservasi sebuah catatan insan manusia. Betapa lebih luar biasa lagi bila terdapat ratusan bahkan ribuan buku dalam sebuah perpustakaan. Pastinya, lebih banyak lagi hal yang bisa dilestarikan, termasuk kebudayaan manusia itu sendiri, seperti dikatakan seorang ilmuwan Kanada George M. Dawson “A great library contains the diary of human race” (:sebuah perpustakaan yang hebat memiliki catatan/diary umat manusia). Dari peradaban kuno Mesir ribuan tahun lalu sampai jatuhnya Presiden Mubarak baru-baru ini, semuanya bisa ditemukan di perpustakaan. Catatan megahnya Dinasti Han sampai kekuatan ekonomi Cina yang makin masif dalam dekade terakhir, semuanya bisa ditemukan di perpustakaan. Tulisan-tulisan mengenai Batik dari zaman nenek moyang hingga sekarang ini disahkan menjadi salah satu the world’s heritage (:warisan dunia), semuanya bisa ditemukan di perpustakaan. Peristiwa-peristiwa penting dari zaman kemerdekaan hingga reformasi yang membentuk relief budaya bangsa, juga bisa ditemukan di perpustakaan. Hal inilah yang seharusnya dipandang oleh pemerintah dan masyarakat, bahwa sebuah perpustakaan yang baik dapat menjadi semacam external hard-disc[5] bagi kebudayaan dan catatan perjalanan sebuah bangsa.

Perpustakaan sebenarnya dapat menjadi ikon sebuah negara, daerah, ataupun institusi tertentu. Dari zaman kuno, kita mengenal sebuah peradaban maju di kota Alexandria melalui perpustakaannya yang dicatat sebagai perpustakaan terlengkap dan terbesar pada era tersebut. Dari sisa-sisa perpustakaan tersebut, dapat dikenali sebuah kebudayaan dari peradaban yang luar biasa. Seorang asing yang datang berkunjung ke Nusantara, selayaknya dapat menemukan catatan identitas bangsa di perpustakaan yang dikunjunginya, selain harus melancong langsung ke daerah-daerah. Beruntung sebenarnya negara kita memiliki Perpustakaan Nasional. Namun, akan lebih beruntung lagi jikalau perpustakaan-perpustakaan di seluruh Indonesia dapat divitalisasi lebih lagi sehingga mampu menjalankan fungsi sebagai wahana pelestarian atau preservasi kebudayaan lokal Indonesia.

Kenyataan terkadang tidak seindah impian. Usaha mempreservasi kebudayaan Indonesia yang tercatat dalam naskah-naskah kuno yang ditemukan seakan membentur tembok. Naskah kuno adalah dokumen tertulis yang tidak dicetak/diperbanyak dengan cara lain baik di dalam/luar negeri yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun dan mempunyai nilai penting bagi kebudayaan nasional, sejarah, dan ilmu pengetahuan[6]. Saat ini, sebenarnya ada banyak naskah kuno yang tersebar dan dimiliki masyarakat secara pribadi. Pada tahun 2003, baru sekitar 10.000 eksemplar naskah kuno yang mampu diselamatkan oleh Perpustakaan Nasional[7]. Kesulitan ini ditambah fakta meresahkan bahwa banyak naskah kuno yang diperjualpelikan. Pemilik naskah kuno lebih suka menjual naskah kuno miliknya kepada orang asing dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Orang asing tersebut kemudian akan menjualnya kembali pada kurator yang kebanyakan dari luar negeri. Kasus ini sebenarnya perlu diperhatikan. Bila aliran perpindahan naskah kuno made in Indonesia ke tangan asing tidak segera dihentikan, habislah catatan-catatan bersejarah tersebut.

Menurut hemat penulis, pemerintah haruslah tegas dalam menggerakkan segenap tenaga untuk melindungi warisan budaya leluhur. Memang sudah ada UU No. 43 tahun 2007 pasal 6 yang berisi kewajiban masyarakat untuk menyimpan, merawat, dan melestarikan naskah kuno yang dimiliki dan mendaftarkannya ke perpustakaan nasional. Namun, harus ada upaya berskala nasional untuk mengumandangkan UU ini. Jujur, bagi penulis pribadi, fakta banyak hilangnya naskah-naskah kuno ke tangan asing menjadi pukulan telak bagi diri sendiri. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa bangsa kita belum menghormati warisan budaya leluhur. Apa jawab kita nanti jika anak-cucu bertanya tentang keberadaan naskah-naskah tersebut? Mungkin hanya diam, seakan-akan diam itu selalu emas.

Sekali lagi perpustakaan memegang peranan yang vital bagi perjalanan bangsa, disadari atau tidak. Di setiap buku tentang Indonesia, ada kita. Di setiap majalah tentang budaya Indonesia, ada kita. Di setiap berita dalam surat kabar tentang suku Asmat pun, ada kita karena toh kita ber-Bhineka Tunggal Ika. Fungsi sebagai wahana preservasi budaya lokal Indonesia bukan hal yang mudah untuk dilakukan, bukan juga usaha seumur jagung. Dan lagi, hal ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen bangsa baik itu civitas akademika, perusahaan-perusahaan, ataupun masyarakat awam. Mengapa? Karena Merah Putih bukan hanya milik segelintir golongan, namun milik 250 juta manusia Pancasila, bangsa Indonesia.

Untuk itu, perlu sebuah sistem yang baik sehingga tujuan tersebut dapat tercapai. Pertama, perlunya revitalisasi perpustakaan-perpustakaan yang ada. Berkenaan dengan hal ini, penulis berpendapat bahwa jaringan kerjasama antar perpustakaan bisa menjadi jawaban. Dalam hal ini, penulis menyebutnya program Library Sisterhood (:Persaudaraan antar perpustakaan). Perpustakaan-perpustakaan yang sudah baik secara fungsional dan fasilitas dapat diharapkan membina sebuah jaringan yang menghubungkannya dengan perpustakaan-perpustakaan lain yang memerlukan bantuan dan bimbingan. Program Library Sisterhood ini bisa juga diterapkan berjenjang, contohnya perpustakaan tingkat perguruan tinggi menjadi semacam lokomotif dalam membangun jaringan persaudaraan dengan perpustakaan-perpustakaan di tingkat SMA, SMA dengan SMP, demikian seterusnya. Kekontinyuan program ini harus juga dijaga agar tidak hanya “sekali lalu selesai”. Pembinaan dalam program Library Sisterhood harus berjalan terus menerus.

Kedua, budaya membaca masyarakat Indonesia perlu untuk ditingkatkan. Sebuah kutipan favorit penulis adalah “A book that is shut is but a block[8] (: sebuah buku yang tertutup nyatanya hanyalah sebuah balok). Artinya, tidaklah ada artinya bila kita memiliki berjuta-juta buku tetapi tidak pernah membukanya. Intinya di sini, kemauan untuk membaca adalah kuncinya. Sekali lagi pemerintah kita sebenarnya juga sudah menyadari hal ini dengan mengadakan gerakan nasional membaca. Lebih lagi Ibu Negara Ani Yudhoyono sudah mencoba mendukung dengan meluncurkan mobil pintar yang seperti perpustakaan berjalan. Satu hal yang perlu ditingkatkan adalah perluasan dan intensifitas gerakan ini. Bagaimana? Dunia pendidikan memiliki jawaban tersebut. Dengan dimulainya gemar membaca dari bangku sekolah sedini mungkin, akan tercipta kelak generasi muda bangsa yang menghargai budaya membaca. Dengan demikian, budaya bangsa juga akan terpreservasi. Maka, inilah tugas para pendidik di seluruh Indonesia, tidak hanya di Jakarta saja.

Biarlah kita bisa terus merefleksikan kebutuhan bangsa ini. Biarlah kita juga dapat mempreservasi warisan-warisan leluhur bangsa. Biarlah perpustakaan bisa menjadi jawaban sebagai wahana pelestarian budaya lokal bangsa. Biarlah perpustakaan menjadi wahana preservasi ke-Indonesia-an kita. Maju terus perpustakaan Indonesia!

***



[1] Rowling, J.K. (2005) Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran. Jakarta: Gramedia.

[2] Pos Kota: Rabu, 20 Oktober 2002 hal. XVIII: 1-2

[3] Undang-undang Republik Indonesia tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 1.

[4] Undang-undang Republik Indonesia tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 3.

[5] Istilah dalam komputer, merujuk pada alat untuk menyimpan file/data di luar komputer.

[6] Undang-undang Republik Indonesia tahun 2007 tentang Perpustakaan Pasal 1

[7] Harian Terbit: Sabtu, 11 Oktober 2003 Hal. VIII: 1-5.

[8] Thomas Fuller.

Rabu, 16 Februari 2011

Written on the Padlock: I Heart Indonesia

As the anticipation of the Valentine Day 2011, the developer of Ancol Taman Impian proudly launched their new recreation facility. It is called Dermaga Hati, which is located at the area of Beach Pool Ancol where most tourists usually gather around, have a relax walk, and enjoy the sunset or sunrise. Dermaga Hati literally means the Pier of the Heart.

By only noticing the name of the brand new facility, it is clear that the developer emphasized the strongest word in the world: love. Actually, Dermaga Hati has a special architecture and a function as the wave breaker so that the tourists can safely swim at the beach. Is that only so? Well, not at all. At this site, the developer has provided a special way to celebrate your love. You can express the feeling of your heart to someone you really love on a padlock. The name of your loved one is to be written on this non-rusty padlock. The key then would be flied up with balloons so that it disappears forever. Hence, what’s left is just the locked padlock with your name and your loved one on it. In years to come, you can come back to Dermaga Hati and still be able to find the padlock you left. This is exactly the symbol of everlasting love.

The developer of the most sophisticated dreamland in Indonesia and South Asia argued that they want people to be thankful for love they can share. This kind of love is not only for young couple, but also meaning for love to parents, brothers, sisters, and friends. Love is universal. I can only imagine if Soekarno, the founding father of this country were still alive, whose name would he write on the padlock? My intuitive imagination will say that he would probably write the name of Indonesia.

As the claimer of Indonesia’s independence on August 17, 1945, Soekarno might be one of those who love this nation so much. The spirit of Indonesia was flowing in his heart. Even though the colonial government always restricted him, his struggle for independence was still strong. Being imprisoned and even exiled did not stop him to fight for Indonesia. The nationalism fire within his heart was inevitable. Thus, Soekarno is the right figure if we want to talk about nationalism in Indonesia.

The “love padlock” at the Dermaga Hati can actually be considered as the symbol of an everlasting love. This great idea should then be followed with a bigger idea of how to express our love for Indonesia. How many Indonesian will someday come to the Dermaga Hati and write his/her name and Indonesia on the padlock? This is a call of challenge for each one of Indonesian. How much do we love our country?

Love for our own country does mean a lot. It is not only needed in times of war. But, even in this peaceful era, our Tanah Air (motherland) still needs our deepest love. Our love for Indonesia means that we are united as a nation. Our love for Indonesia means that we appreciate heroes who died for independence. Our love for Indonesia means that we do not corrupt. Our love for Indonesia means that we do our best. Doesn’t it all sound hard?

But, that is love all about. We definitely cannot love without giving. We have to give something good to Indonesia. Our contribution, regardless how small it is, is worth for our Nusantara. On the top of that, we are once and forever Indonesian. Just like those padlocks being locked forever, our heart is to be locked for Indonesia forever. Let’s have a sincere love for our nation! Let’s lock our heart for this country! Lastly, are you dare to visit Dermaga Hati and write your name and the name of Indonesia?

I am dare to do so:

Junaedy Aries Wijaya

Sumber: www.ancol.com

Ancol semakin Berkita

Saat itu, semarak Imlek sedang menjalari nadi kebangsaan Indonesia. Hal-hal bernuansa oriental dapat dengan mudah ditemukan, seperti lampion, pohon angpao, sampai pertunjukkan barongsai, wushu, dan sebagainya. Di berbagai tempat umum, hiasan serba merah telah sedemikian rupa muncul. Dalam hal ini, pengembang kawasan terpadu wisata Taman Impian Jaya Ancol tidak ketinggalan.

Pada perayaan Imek tahun 2011 yang jatuh di hari Kamis (3/2) yang lalu, berlangsung serangkaian acara seperti perujnjukkan liong dan barongsai di dalam air. Pertunjukkan ini digelar di Sea World, Ancol Taman Impian. Selain itu, di malam hari juga diadakan pesta lampion. Kemudian, ada juga atraksi wushu, senam taichi, dan pagelaran musik tradisional Cina. Jadi, berapa pengunjung yang berwisata? Jangan ditanya soal yang ini. Pihak pengembang mengaku bahwa jumlah pengunjung pada perayaan Imlek tahun ini sudah melampaui target mereka bahkan saat sang waktu masih menunjuk pukul 14. Menurut bagian Humas, seperti yang disampaikan pada beritajakarta.com, terdapat lebih dari 40 ribu pengunjung, sedangkan targetnya adalah “hanyalah” 35 ribu.

Dari secuil pemberitaan di atas, sebenarnya ada dua hal menarik yang patut diulas. Pertama, fenomena perubahan dinamis bangsa Indonesia tentang Imlek. Kedua, bagaimana pengembang Ancol Taman Impian menangkap perubahan dinamis tersebut untuk menjadikan Ancol semakin berkita. Mari menyelam lebih dalam.

Seperti yang telah diketahui oleh masyarakat luas, Imlek merupakan perayaan tahun baru etnis keturunan Tionghoa. Meskipun etnis minoritas ini sudah merupakan bagian terintegral dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, perayaan Imlek baru beberapa tahun lalu mendapat pengakuan secara nasional. Adalah Alm. Presiden Abdurrachman Wahid yang memberi angin segar pada api semangat berkebangsaan yang pluralis di masa Reformasi ini. Di era pemerintahannya, Imlek akhirnya mendapat pengakuan yang sah sebagai salah satu perayaan nasional yang diperingati juga secara nasional. Sejak saat itulah, Gus Dur resmi menorehkan tinta merah pada tanggal perayaan Imlek. Cendekiawan Muslim jenius yang satu ini memang layak dikenang sebagai Bapak Pluralis Indonesia.

Sebenarnya apa yang dilakukan beliau merupakan bukti bahwa Indonesia ada negara ber-Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Pemikiran beliau dan peninggalannya adalah harta warisan yang tak ternilai dan tak lekang oleh waktu. Sekarang, kita yang menikmatinya, kita berhutang padanya. Fakta ini, luar biasanya, segera ditangkap oleh banyak kalangan pengusaha dan pengembang kawasan-kawasan hiburan. Ancol Taman Impian sebagai frontier atau yang terdepan di dunia taman wisata Asia Tenggara bahkan sudah merealisasikannya, seperti yang tertulis di paragraph pembuka.

Lalu, apa hubungannya nuansa perayaan Imlek yang dikemas dengan ciamik oleh Ancol Taman Impian dengan rasa nasionalisme Indonesia? Jelas erat sekali, bagaikan ikatan atom-atom dalam senyawa kimia. Sederhananya, Ancol Taman Impian sudah memberi contoh penanaman, pemupukan, dan pengamalan prinsip-prinsip toleransi antar suku bangsa di Indonesia. Kini, masyarakat Indonesia yang berkunjung ke taman wisata yang digagas Bung Karno ini dapat secara implisit melihat bahwa bangsa kita semakin menghargai keberagaman yang ada. Imlek yang dulunya seakan eksklusif milik etnis Tionghoa saja, sekarang sudah semakin mengindonesia. Ancol Taman Impian pun sekarang ini semakin berkita.

Apa maksudnya berkita? Dilihat dari struktur katanya, sudahlah jelas. Berkita mengindikasikan memiliki/mempunyai “kita”. Kata kita sendiri berarti, ya, kita semua ini. Anda dan saya. Kalian dan kami. Tidakkah ini juga yang ada dalam semangat nasionalisme bangsa. Indonesia adalah milik Anda dan juga milik saya. Tanah Air ini pusaka kepunyaan kalian dan juga kepunyaan kami. Singkatnya, pertumbuhan dan perkembangan Ancol Taman Impian sebagai simbol pariwisata bertaraf internasional ternyata tidak melupakan semangat nasionalismenya sendiri. Kekitaan bangsa Indonesia memang tergurat tuntas dan jelas di Ancol Taman Impian. Memang, Ancol semakin berkita.

Oleh: Junaedy Aries Wijaya

Sumber: www.ancol.com dan www.beritajakarta.com