Reinovasi dan Revitalisasi PLTN yang kini sedang Atrofia:
Bukan Sekedar Utopia Kosong
“Bila Presiden sekarang bicara kemana-mana mengenai pengurangan emisi rumah kaca, maka pembangunan PLTN merupakan solusi yang tepat karena tak mengeluarkan berbagai emisi sebagaimana bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak bumi” (Mantan Presiden Habibie, 2010)
Sejarah Indonesia mengenal sosok presiden ke-3 Republik Indonesia ini sebagai jenius dan intelektual, serta tidak gaptek (gagap teknologi). Tak berlebihan bila sepak terjangnya di belantika riset dan teknologi mendapat sorotan banyak pihak. Menariknya Habibie memberikan statemen yang membawa pikiran kita kembali pada megaproyek dan sebuah utopia (impian) besar. Yakni, Indonesia memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Seperti yang kita ketahui bersama, dunia saat ini berpacu dengan waktu untuk menemukan sumber energi alternatif selain fosil (contoh: batubara) untuk berbagai keperluan seperti listrik. Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Jerman telah memulai proyek pengayaan uranium sebagai bahan baku utama PLTN berpuluh tahun lalu. Langkah sama kemudian diikuti beberapa negara bekembang, yang paling gres adalah negeri Bolywood, India.
Negara kita pun (sebenarnya) tak kalah langkah. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dibentuk. Negeri Dwi Warna juga memiliki Kementrian Riset dan Teknologi yang tentunya bekerja di area nuklir juga. Langkah awal yang baik, sungguh baik. Tetapi, melihat perkembangannya sekarang, naga-naganya proyek nasional PLTN ini sedang atrofia (: terhenti pertumbuhannya).
Perang “Pendapat” Barathayuda
Berbagai kalangan mengeluarkan pendapat tentang rencana besar ini. Saking serunya, barangkali “perang pendapat” ini sama dahsyatnya dengan perang Barathayudha. Opini publik terpecah antara setuju dan tidak. Masing-masing tentu membawa alasan masing-masing yang dinilai kuat dan valid.
Hal ini tidaklah salah dalam kehidupan berbangsa, malah bisa dinilai sangat sehat. Tiap warganegara boleh mengeluarkan pendapat sesuai UU dan berpikir kritis. Satu harapannya adalah bahwa itu semua dilandasi motivasi untuk kemajuan bangsa dan negara.
Terlepas dari perang pendapat tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam satu kesempatan kunjungan kerja ke BATAN di Serpong, Banten (4/7) mengutarakan dukungannya untuk perkembangan nuklir. Presiden menggarisbawahi bahwa beliau mendukung pembangunan teknologi nuklir yang berfokus pada penciptaan energi untuk perdamaian. Salah satunya adalah untuk membangkitkan energi. Seperti yang kita ketahui, masalah kelistrikan adalah satu satu yang terpelik diantara semuanya.
PLN saat ini mengonsumsi batubara dan bahan bakar minyak sebagai sumber utama untuk pembangkit listrik. Berbagai kesulitan yang dihadapi dalam pengadaannya, membawa masyarakat akrab dengan “byar… pet”. Ya, pemadaman bergilir. Pengusaha dan bahkan rumah tangga berteriak karenanya. PLTN bisa dipandang sebagai alternatif paling jitu saat ini. PLN memang sudah mencanangkannya, namun agaknya masih terjangkit atrofia tadi.
Jadi, quo vadis, bung?
Perjalanan realisasi PLTN di Indonesia sebenarnya bukanlah utopia (impian) belaku bila kita melihat persiapan pemerintah. Jadi sebenarnya, quo vadis, PLTN?
Sebentar, sebelumnya mari mengkaji ketersediaan bahan baku PLTN di Nusantara. Jangan-jangan sedikit atau malah tidak ada, lha untuk apa kita mempercekcokkannya bila demikian. Nyatanya, Menko Perekonomian hatta Rajasa mengakui (16/7) bahwa Indonesia memiliki kandungan uranium. Hal ini disampaikannya di kantor menteri, Lapangan Banteng.
Beberapa daerah Indonesia disinyalir mengandung unsur penting yang memiliki simbol kimia U ini. Bangka Belitung (Babel) adalah salah satunya seperti yang disampaikan Gubernur Eka Maulana Ali. Papua juga disinyalir memiliki kandungan salah satu logam berat ini. Tak kalah penting adalah lokasi di Semenanjung Muria, Jawa Tengah, sudah dipersiapkan untuk PLTN ini.
Jadi,
Apa yang kurang?
Ketakutan masyarakat awam adalah ledakan PLTN dan dampaknya terhadap lingkungan. Berarti di sini kita berbicara tentang satu hal: keamanan. Publik awam mungkin saja ‘ngeri’ membayangkan PLTN yang memanfaatkan bahan nuklir. Kata yang terakhir ini terdengan begitu menakutkan. Menurut hemat penulis, hal ini tak lebih dari pencitraan akan bahan nuklir yang dikenalkan secara mendunia oleh serangan bom di Hiroshima dan Nagasaki. Padahal, jika benar-benar memahami sejarah dan kronologis iptek di belakangnya, Albert Einstein tidaklah menujukan teorinya untuk perang yang tidak manusiawi, melainkan perdamaian. Jadi, reinovasi pertama yang harus dilakukan bila benar-benar menumbuhkan kembali PLTN pertama kita adalah perbaikan citra nuklir sendiri.
Kemenristek dan BATAN dapat berkolaborasi untuk tujuan ini. Sebenarnya, prose’s pengayaan uranium tidaklah ‘semengerikan’ yang mungkin terbayang. Kita bahkan bisa melihat simulasinya di internet; yakni melibatkan reaksi fisi uranium dan aliran heavy water yang kemudian menghasilkan uap air yang menggerakkan turbin dan generator dan listrik pun mengalir.
Reinovasi yang kedua adalah di bidang keselamatan lingkungan. Setuju 100% bahwa kita harus memperhatikan keselamatan pekerja, ilmuwan, dan juga lingkungan. Saat ini lembaga-lembaga seperti International Atomic Energy Agency (IAEA) dan Weste Advisory Safety Standard Committee (WASSC) ikut serta dalam pengawasan keamanan lingkungan akan limbah yang mungkin dihasilkan. Rasanya kita memang harus belajar dari sejawat kita dari negara-negara maju. Jadi, kuncinya lagi-lagi adalah rencana yang terorganisir.
Rancangan PLTN nantinya haruslah memenuhi standar internasional yang menjamin keselamatan lingkungan hidup di sekitarnya. Dosen penulis yang sedang mangambil program Ph.D di bidang fisika di salah satu universitas terkemukan di Australia meyakini bahwa Indonesia sudah siap memiliki PLTN. Satu kurangnya adalah SDM untuk mengoperasikan dan mengembangkannya. Inilah titik balik revitalisasi itu hadir.
Saatnya putra bangsa disekolahkan untuk membawa pengetahuan nuklir ke Indonesia. Maka, bidang pendidikan memegang fungsi critical. Namun, kita pun mesti memastikan bahwa pendidikan moral dan akhlak khas bangsa tidak lupa diintegrasikan sehingga yang ada adalah energi nuklir untuk tujuan damai semata. Ini perlu digarisbawahi dengan tinta tebal, agar tidak ada sejarah kelam terulang.
Setiap elemen yang terkait dengan pengembangan ini haruslah bersatu hati. Masing-masing memang berbeda, namun saling membutuhkan pada esensinya. Seperti mata tidak bisa berkata pada kaki “aku tidak butuh kamu”, bagaimanakah ia melangkah bila demikian? Jadi, kinerja apik dibutuhkan untuk reinovasi dan revitalisasi. Sengaja kedua kata itu diberi imbuhan re- karena inovasi dan vitalisasi sebenarnya sudah ada, tinggal ditumbuhkan kembali dengan semangat baru sesuai Visi Pembangunan IPTEK 2025 “Iptek sebagai kekuatan utama peningkatan kesejahteran yang berkelanjutan dan peradaban bangsa”.
PLTN yang dikembangkan nantinya harus bisa menjadi salah satu penopang vital roda kehidupan bangsa namun tetap menjaga lingkungan. Dengan biaya produksi listrik yang dikalkulasi lebih kecil disbanding bila tetap menggunakan batubara dan minyak, PLTN bisa menjadi jawaban untuk sentra industri dan lingkungan hidup, mengingat emisi gas buangnya hampir 0%.
Izin pengayaan uranium untuk tujuan damai rasanya juga bisa diusahakan. Dengan dukungan dari RI-1 dan kesepakatan Menteri Energi se-ASEAN akan nuklir untuk atasi perubahan iklim, semuanya mungkin (tentunya juga atas kehendak Yang Mahakuasa). Hubungan ‘mesra’ antara Indonesia dan Amerika Serikat dengan presidennya yang ‘anak Menteng’ juga bisa memuluskan rencana ini. Indonesia tidak neko-neko, energi untuk kedamaian itulah yang hendak dicapai. Mari singsihkan lengan baju, menyongsong Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, kita reinovasi dan revitalisasi rencana PLTN yang sedang mengalami atrofia. Percayalah hal ini bukan utopia belaka, bila kita berjuang!
***
Penulis: Junaedy AW
Juli, 2010
Informasi tersadur dari:
Website resmi Kemenristek dan BATAN
Website Neclear Energy Institute
Maiwanews.com
Bataviase.co.id
Kompas.com
Kumpulan artikel hasil kliping penulis