Rabu, 28 Juli 2010

Reinovasi dan Revitalisasi PLTN yang kini sedang Atrofia: Bukan Sekedar Utopia Kosong

Reinovasi dan Revitalisasi PLTN yang kini sedang Atrofia:

Bukan Sekedar Utopia Kosong

“Bila Presiden sekarang bicara kemana-mana mengenai pengurangan emisi rumah kaca, maka pembangunan PLTN merupakan solusi yang tepat karena tak mengeluarkan berbagai emisi sebagaimana bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak bumi” (Mantan Presiden Habibie, 2010)

Sejarah Indonesia mengenal sosok presiden ke-3 Republik Indonesia ini sebagai jenius dan intelektual, serta tidak gaptek (gagap teknologi). Tak berlebihan bila sepak terjangnya di belantika riset dan teknologi mendapat sorotan banyak pihak. Menariknya Habibie memberikan statemen yang membawa pikiran kita kembali pada megaproyek dan sebuah utopia (impian) besar. Yakni, Indonesia memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Seperti yang kita ketahui bersama, dunia saat ini berpacu dengan waktu untuk menemukan sumber energi alternatif selain fosil (contoh: batubara) untuk berbagai keperluan seperti listrik. Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Jerman telah memulai proyek pengayaan uranium sebagai bahan baku utama PLTN berpuluh tahun lalu. Langkah sama kemudian diikuti beberapa negara bekembang, yang paling gres adalah negeri Bolywood, India.

Negara kita pun (sebenarnya) tak kalah langkah. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dibentuk. Negeri Dwi Warna juga memiliki Kementrian Riset dan Teknologi yang tentunya bekerja di area nuklir juga. Langkah awal yang baik, sungguh baik. Tetapi, melihat perkembangannya sekarang, naga-naganya proyek nasional PLTN ini sedang atrofia (: terhenti pertumbuhannya).

Perang “Pendapat” Barathayuda

Berbagai kalangan mengeluarkan pendapat tentang rencana besar ini. Saking serunya, barangkali “perang pendapat” ini sama dahsyatnya dengan perang Barathayudha. Opini publik terpecah antara setuju dan tidak. Masing-masing tentu membawa alasan masing-masing yang dinilai kuat dan valid.

Hal ini tidaklah salah dalam kehidupan berbangsa, malah bisa dinilai sangat sehat. Tiap warganegara boleh mengeluarkan pendapat sesuai UU dan berpikir kritis. Satu harapannya adalah bahwa itu semua dilandasi motivasi untuk kemajuan bangsa dan negara.

Terlepas dari perang pendapat tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam satu kesempatan kunjungan kerja ke BATAN di Serpong, Banten (4/7) mengutarakan dukungannya untuk perkembangan nuklir. Presiden menggarisbawahi bahwa beliau mendukung pembangunan teknologi nuklir yang berfokus pada penciptaan energi untuk perdamaian. Salah satunya adalah untuk membangkitkan energi. Seperti yang kita ketahui, masalah kelistrikan adalah satu satu yang terpelik diantara semuanya.

PLN saat ini mengonsumsi batubara dan bahan bakar minyak sebagai sumber utama untuk pembangkit listrik. Berbagai kesulitan yang dihadapi dalam pengadaannya, membawa masyarakat akrab dengan “byar… pet”. Ya, pemadaman bergilir. Pengusaha dan bahkan rumah tangga berteriak karenanya. PLTN bisa dipandang sebagai alternatif paling jitu saat ini. PLN memang sudah mencanangkannya, namun agaknya masih terjangkit atrofia tadi.

Jadi, quo vadis, bung?

Perjalanan realisasi PLTN di Indonesia sebenarnya bukanlah utopia (impian) belaku bila kita melihat persiapan pemerintah. Jadi sebenarnya, quo vadis, PLTN?

Sebentar, sebelumnya mari mengkaji ketersediaan bahan baku PLTN di Nusantara. Jangan-jangan sedikit atau malah tidak ada, lha untuk apa kita mempercekcokkannya bila demikian. Nyatanya, Menko Perekonomian hatta Rajasa mengakui (16/7) bahwa Indonesia memiliki kandungan uranium. Hal ini disampaikannya di kantor menteri, Lapangan Banteng.

Beberapa daerah Indonesia disinyalir mengandung unsur penting yang memiliki simbol kimia U ini. Bangka Belitung (Babel) adalah salah satunya seperti yang disampaikan Gubernur Eka Maulana Ali. Papua juga disinyalir memiliki kandungan salah satu logam berat ini. Tak kalah penting adalah lokasi di Semenanjung Muria, Jawa Tengah, sudah dipersiapkan untuk PLTN ini.

Jadi,

Apa yang kurang?

Ketakutan masyarakat awam adalah ledakan PLTN dan dampaknya terhadap lingkungan. Berarti di sini kita berbicara tentang satu hal: keamanan. Publik awam mungkin saja ‘ngeri’ membayangkan PLTN yang memanfaatkan bahan nuklir. Kata yang terakhir ini terdengan begitu menakutkan. Menurut hemat penulis, hal ini tak lebih dari pencitraan akan bahan nuklir yang dikenalkan secara mendunia oleh serangan bom di Hiroshima dan Nagasaki. Padahal, jika benar-benar memahami sejarah dan kronologis iptek di belakangnya, Albert Einstein tidaklah menujukan teorinya untuk perang yang tidak manusiawi, melainkan perdamaian. Jadi, reinovasi pertama yang harus dilakukan bila benar-benar menumbuhkan kembali PLTN pertama kita adalah perbaikan citra nuklir sendiri.

Kemenristek dan BATAN dapat berkolaborasi untuk tujuan ini. Sebenarnya, prose’s pengayaan uranium tidaklah ‘semengerikan’ yang mungkin terbayang. Kita bahkan bisa melihat simulasinya di internet; yakni melibatkan reaksi fisi uranium dan aliran heavy water yang kemudian menghasilkan uap air yang menggerakkan turbin dan generator dan listrik pun mengalir.

Reinovasi yang kedua adalah di bidang keselamatan lingkungan. Setuju 100% bahwa kita harus memperhatikan keselamatan pekerja, ilmuwan, dan juga lingkungan. Saat ini lembaga-lembaga seperti International Atomic Energy Agency (IAEA) dan Weste Advisory Safety Standard Committee (WASSC) ikut serta dalam pengawasan keamanan lingkungan akan limbah yang mungkin dihasilkan. Rasanya kita memang harus belajar dari sejawat kita dari negara-negara maju. Jadi, kuncinya lagi-lagi adalah rencana yang terorganisir.

Rancangan PLTN nantinya haruslah memenuhi standar internasional yang menjamin keselamatan lingkungan hidup di sekitarnya. Dosen penulis yang sedang mangambil program Ph.D di bidang fisika di salah satu universitas terkemukan di Australia meyakini bahwa Indonesia sudah siap memiliki PLTN. Satu kurangnya adalah SDM untuk mengoperasikan dan mengembangkannya. Inilah titik balik revitalisasi itu hadir.

Saatnya putra bangsa disekolahkan untuk membawa pengetahuan nuklir ke Indonesia. Maka, bidang pendidikan memegang fungsi critical. Namun, kita pun mesti memastikan bahwa pendidikan moral dan akhlak khas bangsa tidak lupa diintegrasikan sehingga yang ada adalah energi nuklir untuk tujuan damai semata. Ini perlu digarisbawahi dengan tinta tebal, agar tidak ada sejarah kelam terulang.

Setiap elemen yang terkait dengan pengembangan ini haruslah bersatu hati. Masing-masing memang berbeda, namun saling membutuhkan pada esensinya. Seperti mata tidak bisa berkata pada kaki “aku tidak butuh kamu”, bagaimanakah ia melangkah bila demikian? Jadi, kinerja apik dibutuhkan untuk reinovasi dan revitalisasi. Sengaja kedua kata itu diberi imbuhan re- karena inovasi dan vitalisasi sebenarnya sudah ada, tinggal ditumbuhkan kembali dengan semangat baru sesuai Visi Pembangunan IPTEK 2025 “Iptek sebagai kekuatan utama peningkatan kesejahteran yang berkelanjutan dan peradaban bangsa”.

PLTN yang dikembangkan nantinya harus bisa menjadi salah satu penopang vital roda kehidupan bangsa namun tetap menjaga lingkungan. Dengan biaya produksi listrik yang dikalkulasi lebih kecil disbanding bila tetap menggunakan batubara dan minyak, PLTN bisa menjadi jawaban untuk sentra industri dan lingkungan hidup, mengingat emisi gas buangnya hampir 0%.

Izin pengayaan uranium untuk tujuan damai rasanya juga bisa diusahakan. Dengan dukungan dari RI-1 dan kesepakatan Menteri Energi se-ASEAN akan nuklir untuk atasi perubahan iklim, semuanya mungkin (tentunya juga atas kehendak Yang Mahakuasa). Hubungan ‘mesra’ antara Indonesia dan Amerika Serikat dengan presidennya yang ‘anak Menteng’ juga bisa memuluskan rencana ini. Indonesia tidak neko-neko, energi untuk kedamaian itulah yang hendak dicapai. Mari singsihkan lengan baju, menyongsong Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, kita reinovasi dan revitalisasi rencana PLTN yang sedang mengalami atrofia. Percayalah hal ini bukan utopia belaka, bila kita berjuang!

***

Penulis: Junaedy AW

Juli, 2010

Informasi tersadur dari:

Website resmi Kemenristek dan BATAN

Website Neclear Energy Institute

Maiwanews.com

Bataviase.co.id

Kompas.com

Kumpulan artikel hasil kliping penulis

Selasa, 26 Januari 2010

Hapeku Tak Gendong Bawa Kemana-mana

Menengok (kembali) 2009
Tak terasa tahun 2010 akan habis dalam kurang lebih 11 bulan lagi. Artinya, kita sudah memasuki awal dekade yang baru ini selama kurang lebih satu bulan. Bagaimana keadaan Anda sekarang? Lancarkah resolusi demi resolusi yang Anda rancangkan pada akhir 2009 lalu? Apapun itu, tahun 2010 sudah berjalan. Menatap ke depan, melangkah mantap, menyongsong masa depan lebih baik, itulah yang kita harapkan.
Jika kita coba pikirkan dan renungkan, dalam satu hari 24 jam manusia lebih cenderung memandang ke depan daripada menengok ke belakang. Kecenderungannya adalah menengok ke belakang jika ada yang memanggil atau ada yang menarik perhatian. Ternyata 2009 menyimpan segudang hal menarik yang mengundang kita untuk menengok khususnya di bidang telekomunikasi selular yang akan dibahas dalam tulisan ini. Mari kita tengok!

Dalam Genggaman Anda, ada Dunia
Pemilu bisa jadi tontonan panggung politik elit Tanah Air yang paling ditunggu masyarakat sepanjang 2009. Akan tetapi, penyanyi fenomenal sekaliber Urip Ariyanto alias Mbah Surip sempat menyita perhatian republik ini. Dengan gayanya yang “merakyat banget” Mbah Surip mampu menyihir 220 juta masyarakat Indonesia. Lagu hit-nya saat itu yakni Tak Gendong menjadi idola bisnis RBT. “Tak gendong... Kemana-mana... Enak toh, Mantep toh.. Ha.. Ha.. Ha..” Barangkali dirasa layak dan pantas jika Mbah Surip disebut salah satu tokoh fenomenal 2009.
Ternyata eh ternyata, lagu Tak Gendong tersebut juga ada kaitannya dengan budaya masyarakat saat ini. Penggunaan handphone (hape) sebagai alat komunikasi massa efektif dan favorit bisa dipandang sebagai budaya. Menilik pengertiannya, bahwa kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi sebuah budaya. Di lapangan, bisa kita lihat bahwa setiap orang yang memiliki hape selalu membawa hapenya tersebut ke pelbagai tempat. Bahkan pada saat tidur pun, hape ada di sebelah kita. Rasanya, penggunaan hape oleh masyarakat modern zaman ini sudah menjadi budaya.
Dikatalisasi oleh murahnya tarif telpon dan SMS oleh pelopor-pelopor jasa layanan selular, semua lapisan masyarakat dapat memiliki barang yang namanya hape. (silahkan baca tulisan-tulisan menarik dalam XL Award 2008 tentang hal ini) Seiring berjalannya waktu, tren hape tahun 2009 bergeser dari yang “sekedar” bisa menyetel MP3, memotret, radio, dan sebagainya ke hape yang connect internet. Hape yang dapat mengakomodasi layanan ini sebenarnya mahal di awal waktu perilisan. Tetapi, sekali lagi adanya inisiatif, inovasi, dan terobosan dalam industri seluler di negeri ini telah mengubah peta populasi hape yang ada.
Beberapa penyedia jasa layanan seluler terkemuka somehow menjadi pelopor dalam memberikan layanan internet lewat hape dengan tarif yang terjangkau. Langkah ini kemudian diikuti oleh provider lain. Cukup salut rasanya melihat hal ini. Sungguh, peta per-hape-an masyarakat Indonesia mulai berubah gradually.
Bisa diamati bersama bagaimana provider layanan seluler cerdas berfusi dengan pabrikan hape tertentu untuk merilis hape internet bertarif oke. Tren bentuk dan model hape juga ikut bergeser. Dari jenis ramping, stylish menjadi besar dan QWERTY. Ya, hape QWERTY seolah menjadi primadona yakni hape dengan keypad menyerupai keyboard sebuah komputer. Dengan besar segenggaman tangan, hape ini mengingatkan kita akan hape jadul (jaman dulu).
Intinya, peta dunia hape sungguh berubah. Sekarang, dengan hanya Rp. 5000,00 atau kurang per harinya, masyarakat sudah dapat menikmati layanan internet cepat, murah, dan simpel. Dalam genggaman Anda, ada dunia!

Dunia dalam Satuan Detik
Fenomena ini sudah pasti berdampak luas bagi masyarakat. “Itu loh, hape yang tombolnya banyak. Yang besar itu, bisa internet juga. Mama kok jadi kepengen...”, ujar Ibu penulis suatu waktu. Bagi Mama yang selama ini baru mengerti cara mengoperasikan telpon dan SMS, promosi hape QWERTY dan internet telah berhasil. Tidak hanya Mama saja, bisa dikatakan masyarakat Indonesia pada umumnya sedang larut dalam euforia hape internet.
Bukti? Penulis sendiri sempat menemukan keunikan yang terjadi di sebuah mal di Tangerang, yakni Supermal Karawaci. Pada saat itu memang sedang terjadi puncak jumlah pengunjung mal. Di sepanjang jalan melalui gerai-gerai yang ada, dibukalah etalase temporer yang menawarkan berbagai jenis dagangan. Kagetnya, sebuah spot pada waktu itu begitu crowded. Tua, muda, om, tante, bapak, ibu, semua orang dari segala jenjang usia ada di sana. Ada apa gerangan? Ternyata di tempat itu sedang dipromosikan sebuah hape ber”judul” QWERTY dan Touch Screen. Promosi ini disertai dengan tawaran kemudahan dan tarif murah langganan internet.
Tren seperti ini ternyata berlanjut hingga awal bulan pertama 2010 ini. Artinya masyarakat naga-naganya meresponi tren tersebut. Sebenarnya, apa sih manfaat yang diperoleh masyarakat bila menggunakan hape berfasilitas internet ini? Yang pasti, ada akses internet. Menurut opini penulis sendiri, internet pernah dicap sebagai sesuatu yang mahal. Perlu berbagai macam persyaratan dan biaya yang cukup tinggi untuk menikmati layanan internet pribadi. Nah, sekarang begitu layanan internet sudah tersedia secara lebih personal dan simpel, masyarakat melihatnya sebagai sebuah kemajuan dan peningkatan yang cukup drastis.
Maju dan meningkat dalam hal apa? Kualitas hidup adalah jawabannya. Berbicara mengenai kualitas hidup, kita tidak bisa lepas dari upaya manusia untuk memperoleh kebahagiaan. Seorang filsuf kenamaan dunia dari bagian barat, Aristoteles, mengatakan suatu pernyataan yang menarik. Dikatakannya bahwa “Happiness is the end to be sought in human life”, yang arti harafiahnya adalah bahwa kebahagiaan merupakan suatu akhir yang dicari dalam hidup manusia.
Menggunakan teknologi termutakhir dalam telekomunikasi dapat menjadikan kualitas hidup seseorang ter-upgrade¬, dan ujung-ujungnya kebahagiaan juga yang didapat. Ambil satu contoh, seorang laki-laki yang jauh dengan pacarnya. Dengan adanya fasilitas internet di hape, komunikasi akan semakin lancar. Mereka bisa ber-chatting, ber-facebook, atau saling mengirim email tentang kerinduan mereka yang mendalam. Jarak pun bisa jadi bukan lagi sebuah halangan.
Pebisnis juga mengalami keuntungan berlipar dengan adanya tawaran ini. Rutinitas pekerjaan mereka menjadi lebih efisien. Salah satu aspeknya adalah kemudahan transfer uang melalui e-banking yang diakses dari hape. Saving time, saving money, mungkin begitulah yang ada di benak mereka. Kebahagiaan bagi pebisnis, yang mungkin juga dimaksud Aristoteles, bisa jadi mereka dapatkan melalui kemudahan ini.
Seorang dosen di sebuah universitas juga ikut “demam” hape internet. Namun, sebagai seorang insan cendekiawan, beliau memiliki alasan yang tepat. Bukan sekedar ikut-ikutan, tetapi benar-benar untuk keperluannya. Beliau mengatakan bahwa penting baginya untuk selalu update surat elektronik alias email karena banyak hal yang beliau selesaikan melalui aplikasi ini. Dengan fasilitas hape internet plus terjangkaunya tarif, hidup beliau menjadi lebih mudah. Kualitas hidup pendidik yang satu ini meningkat.
Penulis sendiri pernah mendapat pengalaman baru yang menarik. Saat sedang membantu seorang adik dari tante untuk belajar kimia, diskusi kami terhenti karena dibutuhkannya tabel periodik unsur. Tidak ada buku, tidak ada catatan, tidak ada clue sama sekali. Tabel itu benar-benar dibutuhkan jam itu, menit itu, dan detik itu juga. Tak dinyana, solusi ada di depan mata. Si adik ini diperlengkapi oleh orang tua-nya dengan sebuah hape dengan akses internet cepat dan murah. Alhasil, dengan beberapa kali klik dan scroll, tabel periodik itu muncul. Proses pembelajaran pun berlangsung dengan lancar sore itu.
Dilihat dari website didapatnya tabel tersebut, bisa dilihat bahwa website itu berasal dari United Kingdom. Dengan jarak yang begitu jauh (dari Indonesia tentunya), data penting bisa didapat dalam hitungan detik. Dengan kata lain, saat ini waktu yang diperlukan untuk lompat dari satu benua ke benua lain hanyalah dalam hitungan detik. Dunia dalam satuan detik.

Seruan Anak Negeri!
Bila sudah begini, sah-sah saja bila setiap kita selalu menggendong membawa hapenya kemana-mana. Keperluan untuk terakses dengan dunia luar, yang adalah natur manusia sebagai mahkluk sosial, memang bisa terpenuhi dengan adanya tarif murah internet, SMS, atau pun telpon. Inovasi dan terobosan-terobosan dari penyedia seluler di masa mendatang layak kita nantikan.
Namun, satu yang perlu diingat adalah perihal tanggung jawab. Fasilitas internet di hape bisa menjadi baik bila dipergunakan sebagaimana mestinya, dan bisa juga buruk bila digunakan tidak pada tempat dan waktunya. Di saat bekerja, tidak semestinya kita tenggelam bersurfing ria dalam facebook. Bagi orang tua, perhatian dan pengawasan terhadap anak perlu ditingkatkan lebih lagi, mengingat begitu “terbuka”nya dunia maya. Semestinya, kemudahan fasilitas tarif murah seluler ini bisa dimanfaatkan manusia Indonesia yang cerdas demi kebaikan dan peningkatan kualitas hidup yang lebih baik. Inilah seruan anak negeri untuk semua manusia Indonesia!
Salut untuk insan telekomunikasi Indonesia. Mari manfaatkan kemudahan ini untuk peningkatan kualitas hidup, bukannya degradasi kualitas. Mari kita bergerak maju menuju Indonesia yang lebih baik di bidang telekomunikasi dan lainnya. Mari dendangkan bersama: Hapeku... Tak gendong bawa kemana-mana... Internet, email, SMS, telpon... Hayoo... Mau yang mana??? Haa... Haa... Haa...


NB: penyedia layanan seluler yang dimaksud di sini adalah XL. Salute for XL!
Tribute to (Alm.) Mbah Surip!

***

Penulis: Junaedy Aries Wijaya