Kata Pak Guru, “ASEAN itu…”
Siang itu, Pak Agus sedang menggebu-gebu mengajar anak didiknya di sebuah ruang kelas sederhana. Bilur-bilur keringat sebesar biji jagung yang mengalir deras dari dahinya tak menguras habis semangat Oemar Bakrie yang satu ini. Sebuah peta cukup besar tergantung di papan tulis. Di peta tersebut, ada negeri elok rupawan Indonesia, ditemani negara serumpun Malaysia. Ada pula negara kota, Singapura. Naik sedikit, ada Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, Filipina. Eits… tak lupa juga ada Brunei Darussalam.
Ternyata Pak Agus sedang mengenalkan sebuah persaudaraan antar bangsa-bangsa di Asia Tenggara yang dikemas apik dalam ASEAN (Association of Southeast Asian Nations). Mudahnya, kata Pak Agus, ASEAN itu bagaikan Rukun Tetangga (RT). Setiap negara adalah sebuah keluarga. Setiap keluarga tentunya memiliki kepala keluarga (KK), buat Indonesia Pak SBY-lah KK-nya. Nah, di setiap keluarga tentu ada anggota keluarganya, bisa ibu, anak, kakak, adik, kakek, nenek. Itulah peran kita sebagai warga negara. Kita semua adalah anggota keluarga Indonesia yang ber-KK Presiden Indonesia dan berada di wilayah RT ASEAN. Demikian jelas Pak Agus, seorang guru.
(Hanya) Berbatas Garis-garis Maya
Sejak dideklarasikan, ASEAN tumbuh menjadi daerah regional yang mulai dipandnag dunia internasional. Bagi anggotanya sendiri, kerjasama multinasional ini mendatangkan keuntungan yang begitu rupa. Sesuai dengan tujuan dibentuknya ASEAN, tiap negara anggota RT ASEAN bekerja sama untuk mempercepat pertumbuhan di bidang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan kerjasama di bidang lain.
Memasuki usia ke 30, para pemimpin ASEAN mengumandangkan Visi ASEAN 2020. Diharapkan pada tahun tersebut terciptalah sebuah komunitas ASEAN yang berwawasan luas, damai, stabil, makmur, dan terikat oleh persahabatan dalam perkembangan yang dinamis dan dalam komunitas yang saling peduli. Sebuah visi yang luar biasa.
Obor semangat untuk mewujudkan visi tersebut terus dibawa dan dijaga oleh para pemimpin ASEAN. Hingga akhirnya pada tahun 2003, para pemimpin ASEAN sepakat untuk segera mewujudkan ASEAN Community (Komunitas ASEAN) berbekal gambaran visi di atas. Dan puncaknya, pada ASEAN Summit 2007, para pemimpin ini menandatangani Cebu Declaration untuk mempercepat terwujudnya Komunitas ASEAN dari tahun 2020 seperti yang dicanangkan menjadi tahun 2015.
Dikenal dengan nama beken Komunitas 2015, terdapat tiga pilar penopang yang penting: Komunitas Politik-Keamanan, Komunitas Ekonomi, dan Komunitas Sosial-Budaya. Dari namanya saja, sepintas orang awam pun akan dengan mudah memahami. Kata “komunitas” memang dirasa kental dengan solidaritas dan kebersamaan. Bagi anggota keluarga negara Indonesia seperti kita ini, diharapkan jalinan kerjasama yang semakin mesra antar anggota RT ASEAN. Konsekuensi baiknya, bidang-bidang kerjasama yang disebutkan dalam tiga pilar di atas dapat dikembangkan lebih lagi.
Bagi penulis pribadi, Komunitas 2015 bagaikan sebuah masterpiece yang ditunggu-tunggu. Mengapa? Karena selama ini, penulis merasa belum adanya lem perekat yang kuat berupa komitmen untuk menjadikan kawasan regional ASEAN lebih solid lagi. Mari kita lihat faktanya. Indonesia adalah salah satu negara pencetus ASEAN bahkan menjadi ketua-nya. Namun, hal kecil seperti jalinan persaudaraan dan persahabatan yang riil antar warga negara saja belum terlalu baik terjalin. Jujur saja, berapa persen dari kita yang pernah mengunjungi Laos? Atau berapa yang mengacungkan tangan saat ditanyai tahu tidaknya tentang gejolak politik di Thailand beberapa tahun lalu? Atau adakah yang memiliki kenalan dari Myanmar, Filipina, Vietnam atau Kamboja? Kalau mau jujur, sebenarnya kita lebih banyak bersinggungan dengan negara tetangga terdekat macam Malaysia dan Singapura. Lalu, bagaimana dengan yang lain? Inilah salah satu tantangan terbesar dalam usaha mewujudkan Komunitas 2015.
Sejauh pengamatan hingga kini, negara-negara ASEAN memang masih terpisahkan oleh letak geografis yang nyata. Komunikasi antar warga negara anggota ASEAN dirasa minim. Pertanyaannya saat ini, apakah kita akan menyerah begitu saja dengan batas-batas geografis dalam upaya mewujudkan komunitas yang berkomunikasi dan bukan komunitas sebatas deklarasi? Padahal, komunikasi yang terjalin baik akan menumbuhkan persahabatan, yang kemudian akan memunculkan persaudaraan sehingga cita-cita luhur mewujudkan komunitas ASEAN berbasis tiga pilar tadi dapat terwujud. Tetapi, bagaimana?
Para pengguna dan bahkan ‘pecandu’ internet sebenarnya yang paling tahu jawabannya. Ya, sobat kita Internet bisa menjadi kunci jawaban yang membantu. Dunia selalu beranjak. Dari dunia agraris ke industri. Dari industri ke teknologi informasi dan komunikasi. Di era serba instan ini, komunikasi nasional, regional, bahkan global sekalipun dapat dilakukan hanya dengan menekan satu tombol kecil saja. Garis-garis pembatas yang dapat membuat sulitnya proses pembentukan Komunitas ASEAN yang solid akan semakin luntur saat kita memanfaatkan dunia internet. Untuk itulah ASEAN Blogger hadir dan pada akhirnya yang ada hanya batas garis-garis maya.
Berdiplomasi Ala Blogger
Jika Anda berkesempatan mengunjungi situs ASEAN Blogger, Anda akan menjumpai motonya yang berbunyi: Bridging ASEAN Community (Menjembatani Komunitas ASEAN). Inilah forum maya berkekuatan nyata. Inilah sebuah aksi jitu yang menunggu reaksi bermutu. Dari siapa? Tentu dari kita para blogger yang juga adalah warga negara.
Oleh karena itu, penulis ingin merumuskan peran yang bisa diambil ASEAN Blogger guna menunjang Komunitas ASEAN 2015. Nah, masih ingat ilustrasi ASEAN di awal tulisan ini? Ya, ASEAN itu ibarat sebuah RT. Negara kita itu bak keluarga yang masuk wilayah RT ASEAN dengan Pak SBY sebagai KK-nya. Kemudian, kita ini berperan sebagai anggota keluarga. Sebenarnya, ilustrasi ini juga dapat memberi kita gambaran tentang peran ASEAN Bloggers.
Pertama, kita mulai dari lingkup keluarga Indonesia dahulu. Para blogger dari Indonesia harus mendukung setiap langkah arif yang diambil kepala keluarganya dalam memimpin negeri kita saat berhubungan dengan negara tetangga anggota ASEAN. Ingat, pemimpin tanpa pendukung tidak ada artinya sama sekali.
Kedua, sebagai Pak RT-nya, Indonesia harus menunjukkan tingkah laku yang baik serta kepemimpinan yang matang. Peran kecil tapi nyata yang dapat dilakukan para blogger Indonesia adalah dengan menjadi warga negara yang baik. Mari kita tunjukkan nilai-nilai luhur bangsa yang ditanamkan dalam diri kita. Saat menuangkan komentar, uneg-uneg, dan sebagainya dalam tulisan di ASEAN Blogger, selayaknya kita menjadi suri tauladan yang baik. Menulis dengan sopan sehingga tidak menyakiti siapapun.
Ketiga, ASEAN Blogger dapat mengekstensifikasi forum ini sehingga dapat dikenal oleh warga negara tetangga di RT ASEAN. Sekali lagi, dunia internet membuat batas-batas yang ada menjadi maya. Hal inilah yang harus dimanfaatkan sungguh. Jikalau mungkin, dapat juga diadakan sarasehan blogger dari negara-negara ASEAN.
Keempat, tidak menutup kemungkinan ide-ide luar biasa muncul dari para blogger. Tidak hanya dari Indonesia, dari negara lain juga. Jika sudah begini, rasanya pas juga bila ASEAN Blogger dapat dijadikan sebuah referensi tajam bagi para pemimpin ASEAN untuk mendapatkan ide-ide kreatif-inovatif guna mengembangkan kawasan ini. Dengan demikian, jarak antara pemimpin dan aspirasi yang dipimpin dapat terpangkas habis. Syaratnya? Mutu tulisan tentunya harus ditingkatkan terus!
Kelima, dengan adanya persahabatan dan persaudaraan antar blogger di ASEAN, diharapkan terwujudnya konektivitas yang aktif guna menunjang keberhasilan visi Komunitas ASEAN 2015. Rasa kebersamaan dan persaudaraan adalah bumbu dasar terciptanya kestabilan di segala bidang baik politik, ekonomi, keamanan, sosial, dan budaya.
Intinya, seperti inilah gaya diplomasi ala blogger. Ya, di zaman ini, diplomasi bukan semata milik para menteri luar negeri. Diplomasi tidak harus dilakukan secara formal dengan pakaian lengkap, berdasi plus jas. Para blogger juga punya kesempatan berdiplomasi dengan warga negara ASEAN yang lain. Bahkan diplomasi ala bogger dapat dilakukan hanya dengan memakai kaos oblong. Gaya diplomasi ini dapat menjadi sebuah langkah awal yang baik guna mempercepat dan mendukung terwujudnya Komunitas ASEAN 2015. Seperti kata Pak SBY, ASEAN Blogger Community adalah gagasan inovatif. Jaya terus ASEAN, maju terus Indonesia-ku! Go ASEAN Blogger!
- Junaedy AW -
September 2011
2 komentar:
Sindhu berkomentar:
Saya suka ide diplomasi ala bloggernya.
Tapi apa mereka itu memiliki legal standing untuk melakukannya?
Terlepas dari itu, blogger memang memiliki peranan yg cukup penting terutama dari segi kontrol, menurut saya.
Tulisan saya: http://0sprey.wordpress.com/2011/09/07/laskar-blogger-sebagai-pendorong-dan-pengawal-komunitas-asean-2015/
Sama mas Sindu, saya suka Berdiplomasi Ala Blogger-nya...
Tidak terbatas oleh kata tapi tak membatasi makna ^^
Masalah legal standing, hmm, apakah harusnya blog-blog itu harus terdaftar dulu dan memiliki backlink ke aseanblogger.com kemudian senantiasa ditiliki oleh admin?
atau kita boleh menulis sebatas di web aseanblogger.com?
bahasan yang menarik sekali mas sindhu ^^
Salam
http://makara393.blogspot.com/2011/09/komunitas-asean-2015-yang-bebas-aktif.html#axzz1biQ7398l
Posting Komentar